[Cerita Utama] No.1 Pengkhianatan dan Keruntuhan (3)
Dante Hiakapo memandang ke bawah.
Ada orang-orang yang mencoba membakar gudang senjata. Saat mereka membuka pintu gudang itu, tempat itu pastilah tampak seperti toilet. Mereka pasti tidak menyadari bahwa yang mereka lihat adalah [ilusi].
“Tangkap mereka!"
Atas perintah Dante, Divisi Disiplin yang datang langsung menyapu bersih mereka.
Karena fluktuasi sihirnya, luka di mata yang belum sembuh kembali mulai mengeluarkan darah.
‘Bukan di sini rupanya.’
Ia segera melangkah pergi.
Ia naik ke tempat tertinggi, Menara Pemancar Sihir. Tempat itu bisa menjadi sasaran pengeboman kapan saja, tapi ia sudah memperhitungkannya.
Dari sana ia memandang ke seluruh Zona 0. Nama-nama para musuh terlihat jelas di matanya.
Di antara mereka, berdasarkan informasi dari 【Script】, ada seseorang yang bergerak untuk melukai salah satu siswa tertentu.
‘…….’
Ditemukan.
Setelah berpisah dengan Profesor Gula.
Ketiganya berlari naik ke punggung bukit untuk melarikan diri.
Yang lainnya juga berlari dengan sekuat tenaga, tapi satu orang harus berlari lebih keras daripada yang lain.
Itu adalah Dominic.
"……."
Dominic merasa bingung.
Di saat terakhir, Profesor Gula, sambil memakai [kamuflase], menyerahkan kunci Shelter Port kepadanya.
Dan kini, kunci itu berada di tangan Dominic.
Alasannya ia yang menerima kunci itu, adalah karena ia yang paling dekat saat itu.
Kenapa?
Padahal Profesor Gula terus saja memaki-maki.
Kenapa benda ini diberikan padaku…….
"……."
Sementara itu, Dominic mulai tertinggal.
“Dominic! Kamu harus lari lebih cepat!"
“Maaf. Aku akan berusaha lebih keras."
Tubuhnya yang besar bergetar. Berat badan yang ia dapatkan sejak kecil karena penyakit bawaan jarang menjadi masalah dalam hidupnya—tapi hanya kali ini, itu benar-benar menariknya ke bawah.
Napasnya mulai berat.
Dominic sadar bahwa sejak tadi, dua orang temannya berlari lebih lambat hanya demi menyesuaikan dengannya.
“Cepat lari, Dominic!"
“Iya, baiklah!"
“Hati-hati dengan kakimu…! Banyak batu di jalan!"
“Baik!"
Mereka berdua mengucapkan kata-kata yang membangkitkan semangat.
Namun, sedikit demi sedikit, Dominic makin tertinggal.
Tatapan cemas mulai mengarah padanya.
Dari Haru dan Forte, bergantian.
Seolah menuntut suatu keputusan…
Mungkin hanya perasaan sensitif saja…
‘…….’
Tapi sebenarnya, sejak dulu…
Dominic sudah tahu.
Bagaimana orang lain memandang dirinya.
Ia tidak sama dengan dua orang itu.
Meskipun sama-sama siswa tinggal kelas.
Yang satu adalah putra keluarga bangsawan dari faksi Putih, seorang akademisi Bulan Bayangan.
Yang satu lagi adalah gadis imut, ramah, dan populer.
Dominic, tidak berasal dari faksi Putih atau Hitam. Tidak punya latar belakang apa pun, dan juga tidak memiliki bakat istimewa.
Ia masuk akademi hanya karena statusnya sebagai anak pejuang berjasa.
Bahkan bisa dianggap aneh jika mereka bertiga dikategorikan bersama sebagai ‘siswa tinggal kelas’.
Pernah suatu kali, seorang siswa berkata santai:
– Kenapa mereka mau main sama anak kayak dia?
Benar juga.
“Dominic! Kalau kita sudah lewati bukit itu, tinggal jalan menurun—"
“…Tunggu.”
Dominic memotong perkataan Forte, sambil terengah.
“Kalian pergi duluan saja."
Dua temannya berhenti dan menoleh.
“Hah??"
“Apa maksudmu, Dominic?"
“Aku tertinggal terus. Kalian duluan saja."
“Ngomong apa sih? Lari!"
“Iya, nggak ada waktu buat ngobrol!"
"……."
Dominic pun menggertakkan gigi dan kembali berlari.
Tapi mungkin saja.
Ekspresi Forte dan Haru tadi sedikit berbeda dari biasanya.
Dan mungkin itu… bukan cuma perasaan saja.
Saat itulah—
KWAAANG!!!
Ledakan besar terdengar. Pos jaga yang mereka lewati tadi meledak.
“Sial, mereka sudah sampai sejauh itu…! Lari lagi! Cepat!"
“Iya! Baik!"
Sementara dua orang di depan terus berlari, Dominic berseru:
“Shelter!"
“Hah?!"
“Ayo ke Shelter Port! Cuma 100 meter lagi!"
“Tapi… kuncinya…!"
“Aku yang pegang! Kuncinya! Aku nemu waktu di jalan tadi!"
“Be-beneran?!"
Kedengarannya agak mencurigakan, tapi tak ada waktu untuk ragu.
Akhirnya, mereka bertiga pun berlari ke arah Shelter Port.
Saat itulah, Dominic kembali merasa bingung terhadap Gula.
Karena ternyata lokasi Shelter Port ini jauh lebih dekat dari yang diperkirakan.
Seandainya…
Kalau saja mereka datang ke sini kemarin…
Mungkin segalanya akan baik-baik saja?
Namun, begitu mereka tiba dan berhenti di depan silinder transparan berukir lingkaran sihir—
Dominic akhirnya sadar.
Shelter Port ini…
"…Sekali pakai, ya…."
“Iya…"
Benar. Ini hanya untuk sekali pakai.
“Dan juga…."
Kapasitasnya…
“Dua orang saja."
"……."
Dominic memandangi kunci itu sejenak, terdiam.
Lalu mengangkat kepalanya, menatap dua temannya.
Sepasang mata coklat gelap dan merah kecokelatan,
sedang menatap dirinya.
Hanya dirinya.
‘……Ah.’
Dominic menyadari sesuatu.
Kenapa mereka mau main sama anak kayak dia?
Ia tak tahu jawabannya.
Tapi…
Apa yang bisa anak kayak dia berikan untuk mereka?
Itu, ia tahu.
Keputusannya telah dibuat.
“Ini. Biar aku saja yang tinggal—"
Tapi saat itu juga, sebuah tangan kasar menarik kerah bajunya.
Bersamaan dengan itu, Haru didorong masuk ke dalam port.
Forte kini berdiri sendiri di luar.
Tak lama kemudian, sihir perlindungan Shelter mulai aktif.
“Nggak…! Forte…!"
Haru berteriak. Dominic pun akhirnya paham situasinya.
“Forte! Apa yang kau lakukan?!"
Namun saat Dominic berteriak, proses 『Transportasi』 Shelter sudah dimulai.
Tubuh mereka diselimuti cahaya sihir, makin menjauh.
Yang tersisa kini hanya satu orang—Forte.
"……."
Forte bersandar di port Shelter yang telah kehilangan cahayanya.
Sejak mendengar kabar bahwa pihak Kreuz memulai pembunuhan,
ia sudah membayangkan akhir ini.
Karena musuh terbesar Kreuz…
adalah keluarganya.
Lima belas tahun lalu.
Saat Perang Pembunuhan II meletus,
Ayahnya, seorang pembunuh dari Asosiasi Faksi Putih, menembak demi melindungi kerajaan dan rakyat.
Setelah itu, ketika pulang ke rumah, ia selalu menasihati Forte kecil:
“Forte,
Pembunuh itu… adalah profesi yang menyelamatkan nyawa."
“Seorang pembunuh tidak boleh membunuh karena niat ingin membunuh."
“Apa maksudnya, Ayah?"
Bagi Forte kecil, itu adalah kata-kata yang mustahil dimengerti.
Sejak awal, pembunuh itu diciptakan untuk membunuh.
Bagaimana mungkin bisa menyelamatkan nyawa?
Menyelamatkan nyawa adalah tugas dokter atau pemadam kebakaran…
Namun kini, saat pikirannya sudah dewasa, ia mengerti.
Dunia ini selalu menyediakan sumber daya hanya cukup untuk empat dari lima orang agar bisa hidup kenyang.
Dan manusia, sejak awal peradaban, telah menggunakan seluruh tenaganya untuk saling membunuh agar tetap hidup.
Selalu ada seseorang, di suatu tempat,
yang ingin membunuh keluarga dan teman kita.
Kalau tidak mau dibunuh, kita harus membunuh lebih dulu.
Kalau pun sudah terluka… kita tetap harus membunuh.
Namun…
Kalau semuanya sudah terlambat…
Forte berpikir:
“…….”
Jika dia memang sudah menjadi korban….
Jika pada akhirnya dia memang harus mati tanpa bisa berbuat apa-apa….
Maka, setidaknya, menyelamatkan orang lain walau sedikit pun….
‘…Berarti aku seorang pembunuh, Ayah.’
Karena dia berhasil melindungi dua orang, bukankah itu berarti dia telah mendengarkan nasihat ayahnya sebagai anggota keluarga Asimov?
Namun, di tengah aura membunuh yang semakin pekat seiring waktu. Sementara suara ledakan dan tembakan terus terdengar dari kejauhan.
Forte mulai kehilangan tenaga di kakinya. Sesuatu yang begitu luar biasa tengah mendekat.
‘Ini…….’
…memang benar, kan?
“…….”
Dan akhirnya, saat melihat para pembunuh dari Kreuz yang muncul dari balik pepohonan.
Forte kembali bertanya dalam hati.
Apakah ini benar-benar keputusan yang tepat…….
“Di sini. Ketemu. Tikus kecil dari Asimov. Koordinat sudah dikonfirmasi.”
Begitu salah satu pembunuh yang muncul lebih dulu mengirimkan laporan, empat hingga lima pembunuh lainnya segera menyusul.
Forte, yang hampir tak bisa bernapas karena tegang, segera mengeluarkan senapan runduk dan mengarahkan moncongnya ke mereka.
KRRR-!!
Tiba-tiba sebuah suriken tertancap tepat di laras senapan. Dia bahkan tak tahu kapan itu dilempar.
Bilah logam itu membelah hampir separuh laras senapan. Lalu terpental dan menggores kening Forte cukup dalam.
PUHUK-!
Ujungnya menyentuh tengkoraknya.
‘Kuh!’ Tubuh Forte terlipat karena rasa sakit. Darah mulai mengucur deras.
[Tipe Lempar] secara alami mengungguli [Tipe Tempur] dan [Tipe Penembak Jitu] dalam jarak khas mereka. Terlebih jika kemampuan mereka setara. Tapi para pembunuh ini jelas lebih kuat dari dirinya.
“Kau pasti dia. Anak Asimov. Benar, kan?”
Saat itu, salah satu pembunuh yang menutupi wajahnya dengan penutup berbicara.
“…….”
“Untuk bunuh kamu satu orang aja, banyak yang harus bersusah payah.”
“…….”
“Ayo mati. Udahan.”
CLING—!
Satu suriken diambil dari pergelangan tangan sang pembunuh, orang dewasa itu mulai mendekat ke arah Forte.
TUK.
Begitu tenaga menghilang dari tangannya, senapan pun terjatuh.
Forte tiba-tiba mengeluarkan belati dan berteriak.
“Hei! Sini lo, bajingan! Hah!? Ayo sini-!!”
Namun tentu saja, gertakan semacam ini tak akan mempan.
Akhirnya, pembunuh yang sudah mendekat itu menyerbu ke arahnya.
PRASS-!
Jejak sihir tersebar ke segala arah.
Pembunuh itu semakin mendekat.
Dalam situasi itu.
Forte tanpa sadar memejamkan mata erat-erat.
Hanya, sambil berharap bahwa dirinya benar-benar seorang pembunuh……
──Dan pada saat berikutnya.
Forte mengalami sesuatu yang luar biasa.
Dunia menjadi terang benderang.
Meski matanya terpejam, dia bisa merasakan seluruh dunia bersinar gila-gilaan.
Tapi itu bukan sekadar terang. Rasanya seolah dirinya berada dalam berkat seorang malaikat…….
Cahaya menyapu dunia hanya dalam sekejap. Namun Forte merasa matanya sakit, seakan bisa terbakar, hingga dia ragu untuk membukanya.
Beberapa detik berlalu.
“Sekarang kau boleh buka mata.”
Begitu mendengar suara yang sangat familiar, Forte spontan membuka matanya.
Perlahan,
Setelah matanya selesai menyesuaikan diri dengan cahaya.
Forte merinding dari ujung kepala hingga kaki.
Semua pembunuh yang tadinya menyerbu kini tewas mengenaskan.
Semuanya terjadi hanya dalam satu hingga dua detik. Di tengah pemandangan tak masuk akal itu, Forte merasakan getaran hebat dalam dirinya.
“Kerja bagus. Sudah bertahan sejauh ini.”
Seorang pria berjalan mendekat dari tengah-tengah mereka. Dengan darah mengalir dari matanya, dia menepuk kepala Forte.
Tubuhnya goyah karena tekanan tangan itu.
Dia adalah seseorang yang Forte sama sekali tak menyangka akan ditemui di sini.
“…….”
Profesor Dante Hiakapo.
“Apa kau terluka?”
“Ya, ya….”
“Jauh sekali kau pergi tanpa guna.”
“Te-terima kasih….”
“Cukup. Kalau kau masih bisa berjalan, ayo turun sekarang. Terlalu berbahaya jika berlama-lama di sini.”
Dengan jantung yang berdebar tak menentu, Forte mencoba bergerak,
Namun kemudian ragu dan berhenti sejenak.
“A… Saya, sedikit…. Sedikit….”
“Ada apa?”
“…Kakiku lemas. Maaf, saya tadi sangat ketakutan….”
Meski malu, ia mengungkapkan isi hatinya. Dan Dante hanya menjawab dengan datar.
“Orang yang dikirim untuk menyelamatkan anak-anak, ketakutan katanya?”
“Ya, ya…. Saya ketakutan…. Memalukan sekali….”
“Begitu ya.”
Sang profesor menjawab singkat.
“Bagus. Karena kau jujur.”
Dari ucapan pria itu.
Forte merasakan emosi yang kuat.
“…….”
Setelah bergerak beberapa kali, tenaga di kakinya mulai kembali.
“Saya sudah bisa jalan.”
“Ayo.”
Saat menuruni gunung bersama sang profesor.
Forte kembali memikirkan kata-kata ayahnya.
Pembunuh memang pekerjaan yang menyelamatkan nyawa.
Seperti pria di depannya ini.
* * *
Setelah mengantar Forte kembali ke Asrama Bulan, aku kembali menaiki jalan gunung itu.
Dalam perjalanan, perasaanku terasa aneh.
‘…….’
Kerajaan Hiaka hanyalah latar dalam permainan.
Dan masa baktiku sebagai profesor baru sebulan setengah.
Tak ada alasan bagiku untuk terbawa suasana ini.
Namun begitu…….
Mungkin karena emosi Dante yang telah [disinkronkan] padaku.
Dia memang berasal dari Hiaka dan mendaftar menjadi profesor atas keinginannya sendiri.
Tentu saja situasi ini bisa menyakitkan baginya.
Masalahnya, sekarang aku adalah Dante.
‘…….’
Aku merasa tidak enak.
Meski tak sebanding dengan saat bertemu iblis, tetap saja rasanya sangat menjijikkan.
Melihat muridku berdarah juga membuatku kesal, dan begitu pula melihat akademi tempatku mengabdi hancur.
‘…Mungkin ini cuma perasaan tak penting.’
Tak ada alasan untuk larut terlalu dalam.
Aku menepis pikiranku.
Sebelum menjadi profesor, aku adalah seorang pemain.
Satu-satunya yang menyadari akhir dunia ini dan mampu melawannya.
Aku harus melihat lebih jauh ke depan dan bertindak.
KRIING…….
Apalagi sekarang, 「Liberator⁺₊⋆」 terus menjerit kesakitan.
Senapan ini, yang seharusnya hanya senapan biasa, mampu menghasilkan daya rusak setara meriam karena setiap tembakannya menggerus [ketahanan] secara drastis.
Kini senjataku mulai retak. Dan karena ini adalah [Senjata Stigmata], tak bisa diperbaiki.
‘……Paling tinggal belasan tembakan.’
Jika aku membiarkan diriku terpengaruh emosi di sini, peluru-peluru tersisa ini hanya akan terbuang percuma.
Itu tak boleh terjadi.
Melindungi akademi tetap harus dilakukan.
Tapi demi kelangsungan hidup jangka panjangku, yang bisa dikantongi tetap harus dikantongi.
Pertama-tama aku kembali ke lokasi tempat para pasukan khusus Kreuz menyerang Forte secara mendadak.
Mayat-mayat mereka sudah mulai lenyap satu per satu.
Mereka masih ada di sana, tapi tubuh mereka memudar menjadi warna ungu, dan kemudian menghilang perlahan.
Karena mereka akan kehilangan banyak jika identitas mereka terbongkar, mereka muncul sambil mengaktifkan 『Kutukan Pemusnahan』.
Namun, peralatannya tak ikut lenyap, jadi aku memutuskan untuk mengambil semua peralatan yang menempel di tubuh mereka.
Karena mereka dikirim dengan dendam kerajaan Kreuz, kualitas peralatan mereka luar biasa. [Langka] sudah jadi standar. Ada beberapa [Pahlawan], dan bahkan satu orang membawa aksesoris peringkat [Legenda I].
Aku tak perlu memungut satu per satu. Orang mati tak bisa lagi menjadi pemilik. Peralatan yang kehilangan tuan bisa langsung terserap ke dalam [Inventori] begitu disentuh.
Aku mendekati tubuh-tubuh yang memudar dan mengumpulkan seluruh peralatan.
Seperti para pembunuh pada umumnya.
Tak meninggalkan satu pun.
Sampai akhirnya, saat liontin kalung terbuka dan terlihat foto keluarga di dalamnya.
Aku menyadari bahwa ini adalah pembunuhan pertamaku.
Ada hal-hal yang baru kita sadari saat hidup terus mengalir.
Rambut yang sudah panjang tanpa terasa, kuku yang sudah waktunya dipotong, nota lusuh yang terselip dalam dompet.
Meski sudah cukup lama hidup di tempat ini, baru sekarang aku menyadari betapa pelik posisiku.
Aku adalah orang yang mengajarkan cara membunuh.