EP11 - Pembunuhan Profesor: Ilusi (6)
Ini adalah pertama kalinya aku menggunakan 「Liberator⁺₊⋆」 dalam pertempuran nyata. Seperti yang kuduga, kekuatannya luar biasa, tapi kondisiku sendiri tidak baik.
< [MP] : 43 / 1.258 >
Seperti kawat yang menolak arus listrik, bau seperti sesuatu yang terbakar di otakku mengalir keluar melalui telingaku.
Rasanya seperti perutku jungkir balik karena terlalu banyak menggunakan kekuatan sihir. Pusing dan mual menyerbu datang.
‘Apa kekuatan sihirku benar-benar habis hanya dalam waktu sesingkat ini…….’
Makhluk ilusif yang dibuat melalui pemalsuan bentuk sebanyak tiga atau empat kali. [Gelombang Ultrasonik]. Gerakan makhluk ilusif itu saat melangkah dengan teknik langkah cepat. Beberapa kali penggunaan 『Medan Distorsi Sihir』.
Dan terakhir, hanya satu kali pemalsuan ruang dengan 『Kaleidoskop』. Aku hanya mereproduksi poligon yang telah kusiapkan, tapi jangkauannya terlalu luas.
Aku benar-benar merasakan kekuranganku sendiri. Dari kekuatan sihir hingga segalanya terasa kurang. Tapi setidaknya aku masih bisa bergerak.
“Krururuk…!!”
Aku menolehkan kepala.
Di kejauhan, makhluk yang hancur berantakan karena serangan tak terduga sedang mencoba bangkit.
Aku mendekati iblis yang jatuh sambil menggenggam 「Liberator⁺₊⋆」. Sayapnya telah terbakar habis. Bagian bawah tubuh dan lengan kirinya juga telah lenyap.
Ekspresinya terpelintir karena rasa sakit. Mengingat bahwa iblis seharusnya tidak merasakan sakit, ini adalah hal yang menyenangkan. Itu karena stigmata dari [Bintang Terang⁺₊⋆] tampaknya memang mengandung kekuatan cahaya, yang seperti [Kekuatan Ilahi], sangat mematikan bagi iblis.
Saat aku mendekat, makhluk itu mencoba menjauh dengan lengan satu-satunya dan tubuh bawah yang terpotong.
“Kau takut padaku?”
Tak ada jawaban. Itu karena sebagian rahang dan lehernya telah terbakar habis. Cukup menggelikan. Kenapa hidup ini justru menjadi berharga karena terbatas? Bahkan monster yang diciptakan untuk membunuh umat manusia pun tak bisa menghadapi kematiannya dengan tenang.
Karena itulah membunuhnya menjadi berharga. Sesuatu yang tak berharga, tak layak untuk dirampas. Saat itu, aku justru merasa bersyukur secara paradoks. Karena makhluk ini menolak tawaranku. Berkat itu, aku bisa menembakkan peluru ke kepalanya sendiri…….
Tek!
Cahaya memancar, menghancurkan kepalanya, dan terus menyapu area hutan di sekitarnya.
Saat tubuh bagian atas makhluk itu runtuh bersama dengan seluruh badannya, jendela status yang tak terduga pun muncul.
┃ Pencapaian Dicapai: [Pembunuhan Iblis Pertama]
┃ Hadiah: Pecahan Bintang × 20
Pecahan Bintang yang sangat banyak diberikan padaku.
Kepuasan dan euforia menyembur dari dalam diriku.
Akhirnya aku membunuh musuh umat manusia.
‘…….’
Pikiranku yang memanas perlahan menjadi dingin.
Ini belum saatnya untuk merasa lega. Kemampuan spesial makhluk itu kebetulan adalah tipe [Pemanggilan-Penjinakan].
Hanya karena tuannya mati, bukan berarti makhluk panggilan itu akan lenyap begitu saja. Aku harus segera pergi dan menggeledah ruang pribadinya.
Namun, pertama-tama aku memilih untuk menjalankan tugasku sebagai profesor. Aku mencari para murid yang tergeletak.
“Kalian semua baik-baik saja?”
“Ya….”
Kupikir mereka tak terluka. Tapi ternyata tidak. Hanya karena tertekan oleh sihir, mereka semua mimisan dan mata mereka memerah. Bisa saja ada kerusakan pada organ dalam atau bahkan otak mereka.
“Faru. Dominic. Bagaimana dengan kalian?”
“…Ya. Ah. Aku… baik-baik saja….”
Mungkin karena aku pertama kali bertemu mereka pada hari pengangkatan. Entah kenapa aku merasa sedikit lebih peduli pada mereka. Seperti yang kuduga, kondisi mereka juga tidak baik. Terutama Dominic yang kekuatan sihirnya lemah, tampaknya ia sampai memuntahkan darah dan membasahi seragam putihnya.
“Kalian semua masih bisa berjalan?”
“Tentu saja, Profesor. Satu-satunya kelebihan Dominic ini apa, coba? Ketahanan tubuh!”
Setelah berkata begitu, Dominic pun tumbang.
Bruk!
Ia pingsan. Masalahnya, berat tubuh anak ini tampaknya mencapai 150 kg.
Kondisiku saat ini hanya setara dengan atlet biasa, ditambah dengan tenaga yang telah habis, jadi membawa Dominic sejauh 2 km ke rumah sakit fakultas tampaknya tak akan mudah.
‘Ini benar-benar situasi yang buruk.’
Bahkan jika aku memanggil orang, sepertinya mereka akan datang cukup lama kemudian.
Saat itu, sesuatu muncul di 【Naskah】.
【 Mahasiswa Tahun Pertama Akademi Naga Tersembunyi, Elise: ‘Sakit mataku.’ 】
【 Mahasiswa Tahun Pertama Akademi Naga Tersembunyi, Gray: ‘…….’ 】
Entah sejak kapan mereka muncul, tampaknya Elise dan Gray telah mengamati situasi ini.
Kebetulan sekali.
“Sampai kapan kalian hanya akan menonton?”
“Eh?”
“Kami, maksud Anda?”
Para murid di sekitarku tampak kebingungan, dan saat itu ruang transparan pun mulai menghilang, menampakkan Elise. Seperti biasa, dengan ekspresi menyenangkan seperti retriever yang ceria.
Para murid terkejut dengan kemunculan mereka berdua.
“Halo, Profesor.”
“Elise. Aku akan menanyakan kenapa kau ada di sini nanti. Bisakah kau membawa anak-anak ini ke rumah sakit fakultas?”
Elise lalu memiringkan kepala dan bertanya:
“Kenapa?”
Pertanyaan yang aneh, tapi kami sudah saling kenal cukup lama.
Bukan karena jahat. Dia benar-benar tidak tahu.
Elise adalah orang yang baik, tapi nalar dan pemahamannya tentang norma cukup bengkok. Ia bisa sangat dingin terhadap orang yang belum punya hubungan dengannya.
Jadi aku membisikkan:
‘Katanya mereka semua tidak punya ayah.’
‘Hah. Kalau begitu harus dibantu.’
‘Betul.’
Segera Elise berbicara ke udara. ‘Moong. Boleh pinjam punggungmu sebentar?’ Moong? Sekarang aku perhatikan, ada sesuatu di minimap. Sepertinya itu makhluk roh raksasa. Elise mengangkat para murid ke udara dan menghilang bersama mereka.
“…….”
Kini hanya Gray yang berdiri termenung di sana. Tapi ekspresinya dan reaksinya terasa aneh.
Apa yang sedang terjadi padanya?
“Apa itu.”
Kulihat ekspresinya.
Tak ada hal mencurigakan di 【Naskah】 juga.
“Profesor. Sejauh mana Anda menguasai [Ilusi]……?”
Saat itu Gray bertanya dengan ekspresi datar. Tak seperti biasanya yang suka bercanda, wajahnya kali ini sangat serius. Bahkan gigi taringnya tersembunyi.
“Kenapa kau menanyakan itu di saat seperti ini?”
“Soalnya… Anda cukup jago……”
Perasaanku tak enak. Aku belum tahu pasti, tapi aku tahu Gray adalah sosok yang sangat berubah-ubah.
Untuk mempertahankan wibawaku, sebaiknya aku tidak terlalu banyak bicara.
“Kalau tak ada urusan, aku pergi dulu.”
Gray terus menatapku dengan ekspresi tak terbaca. Aku pun meninggalkan tempat itu.
Setelah itu, aku harus segera bergerak.
“Hmm? Profesor Dante. Kenapa jadi seperti itu?”
Untungnya, Kepala Fakultas Shaman belum pulang. Ia terkejut sambil menggoyangkan lemak di dagunya. Belakangan aku baru sadar kalau darah mengalir dari telingaku.
Bagaimanapun juga, aku memberi tahu bahwa Profesor Toxin adalah ‘makhluk aneh’. Kepala Fakultas pun berubah serius dan memanggil beberapa petinggi dari Biro Disiplin.
Akhirnya aku pergi bersama dua petinggi Biro Disiplin dan Kepala Fakultas ke kediaman Profesor Toxin di gedung dosen.
Seperti yang kuduga. Di sana ditemukan tiga mayat mahasiswa yang sebelumnya dinyatakan hilang dan diduga dibunuh.
Dengan ketiga mayat itu sebagai bahan, ditemukan sekitar 1.000 butir telur yang terhubung pada segumpal daging dengan urat-urat menjijikkan.
“Brengsek… ini semua apa?”
“Untuk saat ini, tampaknya itu telur monster……”
Kepala Fakultas dan petinggi Biro Disiplin tampak panik, tapi aku tahu persis.
Itu adalah telur Ngengat Boneka Mayat, jenis yang sering digunakan oleh iblis tipe [Kutukan]. Telur itu menyebarkan [Kutukan].
Tapi Toxin, iblis tanpa cangkang yang kutangkap, adalah iblis tipe [Pemanggilan-Penjinakan]. Apa artinya ini?
Artinya Profesor Toxin membiakkan telur-telur ini demi iblis lain.
‘……Setidaknya ada satu iblis lagi yang telah menyusup.’
Mungkin saja mereka sudah membentuk koloni beranggotakan lima atau enam.
Sisanya adalah tugas Biro Disiplin.
* * *
Malam itu juga.
Dororong. Dororong…….
Seperti biasa, Elise tidur nyenyak dalam suasana hati yang baik.
Tapi ia tiba-tiba terbangun karena suara benda yang hancur berkeping-keping.
‘Hmm…….’
Suara apa itu barusan?
Terdengar seperti suara tajam dari kaca yang pecah.
Lalu seolah ada cahaya yang berkedip di luar jendela.
Ia mencoba memasang telinga, tapi tidak terdengar apa pun.
Sepertinya cuma salah dengar.
Ia hendak kembali terlelap ketika—
Brak! Kali ini jelas terdengar suara pecahan.
Saat ia keluar, Gray sedang berada di halaman belakang Asrama Jamryong.
Pecahan kaca berhamburan dari segala arah di sekeliling Gray.
“Apa yang kamu lakukan, Gray?”
“…Apa? Kenapa kamu belum tidur?”
“Aku dengar suara, jadi aku ke sini. Kamu lagi ngapain?”
“…Nggak usah tahu. Pergi sana.”
“Baik.”
Namun ia tetap bersembunyi di balik pohon dan mengintip.
Gray sedang mimisan hebat.
Apa-apaan ini……??
Tapi ia langsung ketahuan karena tatapan jengkel dari Gray.
“…Hei. Jangan intip-intip. Pergi sana.”
“Oke.”
Elise yang kena semprot pun berbalik badan. Kalau dia tetap di situ, bisa-bisa kena pukul. Sementara itu, Gray menggerutu pelan, “Sial… Kenapa aku nggak bisa juga, sih…?” Tapi Elise tidak paham maksud perkataannya itu.
Ia kembali ke dalam dan berbaring di tempat tidur.
Akhirnya, tadi itu apa, ya?
Ia penasaran, tapi tak sempat berpikir lama.
Elise pun tertidur kembali.
“…zzZ.”
Dalam mimpinya, entah kenapa, ia sedang berjalan-jalan bersama Profesor Dante.
- Tunggu di sini.
Ia menunggu dengan manis.
Lalu ia diberi tiga tulang.
* * *
Begitulah, misi pembunuhan Toxin berhasil diselesaikan.
Tapi ada satu hal yang disayangkan.
Untuk menyita perlengkapan pembunuhan profesor, diperlukan alasan hukum.
Karena itu, tak ada alasan untuk menyita 「Cincin Pengendali Jarak Jauh」 milik Derek. Soalnya aku hanya melihatnya lewat 【Naskah】.
Padahal itu alat seharga ratusan ribu Hika……. Jelas-jelas dipakai dalam upaya pembunuhan profesor, tapi tetap saja tak bisa disita!
Awalnya aku berniat membuat bukti setelah lolos dari pembunuhan dengan aman……
‘……Brengsek benar memang para iblis bangsat ini.’
Rasa marah menggelegak dalam hati, tapi kutahan. Karena semuanya sudah terlambat……
“Syukurlah semuanya selamat.”
Keesokan paginya saat aku mengunjungi rumah sakit, keadaan mereka semua sudah membaik. Besok pun sudah boleh pulang.
“Terima kasih, Profesor….”
“Benar-benar, kami kira kami bakal mati kemarin….”
Para kadet membungkuk berkali-kali dengan ekspresi penuh rasa hormat dan takjub.
【 Jurusan Ilmu Pembunuhan Tahun 1, Derek : ‘Saat kami hendak membunuhnya, dia bahkan tidak muncul. Tapi sekarang, dia malah menyelamatkan kami.’ 】
Padahal aku ke sana murni buat membunuh iblis, tapi mereka semua malah salah paham dan mengira aku menyelamatkan mereka.
【 Jurusan Ilmu Pembunuhan Tahun 1, Dominic : ‘Pemandangan yang kulihat kemarin, itu bukan ilusi ataupun berlebihan. Profesor Dante, Anda adalah….’ 】
Padahal aku masih lemah, tapi mereka semua salah paham dan mengira aku ini petarung hebat.
【 Jurusan Ilmu Pembunuhan Tahun 1, Hwaru : ‘Apa sebenarnya yang kulihat kemarin itu?’ 】
Tapi ada juga yang mulai curiga.
Mungkin pihak Divisi Disiplin sudah mengingatkan mereka untuk tutup mulut. Soal kematian Profesor Toxin, pasti dilarang dibicarakan.
Lagipula, kalau pun mereka bicara, siapa juga yang bakal percaya. Soalnya keberadaan iblis belum diketahui publik.
‘Kalau sampai ketahuan, pasti bakal repot.’
Sama seperti sebelumnya. Rumor tentang aku membunuh Profesor Hakon sempat menyebar dan nyaris memicu konflik besar di kalangan pembunuh.
“Perhatian.”
Sekalian, aku putuskan untuk menertibkan mulut para kadet. Biar aku yang sebenarnya lemah ini tidak keliru dianggap sebagai petarung sakti.
“Segala kejadian kemarin, biarlah hanya kita yang tahu. Terutama soal diriku, usahakan jangan disebarkan. Kalian pasti paham, sebagai pembunuh, aku harus merahasiakan identitasku, bukan?”
Para kadet pun mengangguk setuju. Terutama dua orang ini yang menjawab dengan semangat.
“Ung, serahkan saja padaku!”
“Profesor Dante, aku ini bukan hanya berat badan saja yang besar. Lidahku pun punya bobot yang setara. Anda tidak usah khawatir.”
Aku percaya pada mereka.
⋮
Beberapa saat kemudian.
“Eh, guys! Ada kejadian heboh banget tadi. Eh, padahal profesor suruh jangan ngomong, tapi— Ung? Jadi gini, profesor tuh kemarin ketemu penyusup dan…….”
“Dengar, kalian harus waspada. Profesor Dante itu pembunuh yang jauh lebih gila dari bayangan kita. Hah? Gak penasaran? Ya udah, ini cuma buat kalian aja, ya…….”
⋮
Keesokan harinya, seisi akademi heboh luar biasa.
EP11
Pembunuhan Profesor: Ilusi
END