EP11 - Pembunuhan Profesor: Ilusi (4)
Awalnya, saat sedang berlari, aku melihat bentuk [jebakan] di minimap, jadi aku langsung menghentikan langkahku.
Patung yang berdiri di tengah koridor bergerak dan menebaskan pedangnya.
‘……!’
Tak ada suara, dan tak juga menghantam lantai. Itu adalah [ilusi].
Tapi saat aku berpikir, “Ini jebakan?”—
Tuk.
Kakiku menyentuh sesuatu di lantai, terasa sedikit resistensi, lalu terputus.
Syuuaaaak!!
Anak panah terlepas dari perangkap di langit-langit.
‘Kugh!’
Aku berhasil menghindar dengan memutar pinggang.
Itu berkat latihan fisik tiap hari yang meningkatkan status tubuhku dan juga karena aku sudah mendeteksi [jebakan] itu sebelumnya.
Apakah mereka memasang [ilusi] dan [jebakan] secara ganda…? Para siswa ternyata cukup mahir dalam menggunakan ilusi.
Kebetulan, semuanya juga terlihat sebagai satu entitas di [minimap], berhasil mengacaukanku.
【 Derek, Mahasiswa Tahun 1 Jurusan Pembunuhan : <Di koridor! Perangkap koridor terputus!> 】
Seorang siswa yang menerima sinyal sihir melalui “Cincin Pengendali Jarak Jauh” berteriak.
【 Derek : <Kejar! Bunuh Profesor!> 】
Aku kembali berlari di sepanjang koridor, dan melihat dua titik merah di ujung minimap yang berlari ke arahku.
【 Derek : <Sialan. Bisa-bisanya kena perangkap sesederhana itu. Padahal bisa saja lewatin dengan aman… Kita benar-benar dipermainkan, kan!?> 】
Bukan, aku beneran nggak tahu itu jebakan….
Jantungku masih berdegup kencang.
“Itu dia!”
“Serang mendadak! Dengan [kamuflase]!”
Suara mereka terdengar panik dari ujung koridor yang berbelok.
Bersamaan dengan itu, aku membuka jendela dan melompat keluar.
『 Pemalsuan Dunia: Pemalsuan Bentuk [Dante] 』
Aku meninggalkan ilusi diriku yang sedang terus berlari di tempat tadi.
【 Derek : <Kali ini pasti tertangkap……!> 】
【 Hwaru : <Uwaah! Palsu ini!> 】
【 Derek : <Apa!?> 】
【 Hwaru : <Aku menusuk lehernya, tapi langsung menghilang! Itu ilusi!> 】
Astaga.
Mereka benar-benar menusuk leher tanpa ragu. Dasar gila.
【 Derek : <Di luar! Profesor Dante keluar lewat jendela!> 】
Lagi-lagi, bagaimana mereka bisa tahu?
Seingatku, aku tidak menyentuh [jebakan].
【 John : <Arah mana!> 】
【 Derek : <Selatan! Ada jejak sepatu di bingkai jendela selatan!> 】
Aduh. Itu aku nggak perhatiin.
Padahal sepatuku nggak kotor, jadi jejaknya pun samar. Tapi mereka bisa nemuin itu dalam 20 detik lari?
‘Jelas sekarang. “Cincin Pengendali Jarak Jauh” punya fitur deteksi juga rupanya….’
Berarti harganya makin mahal, ya….
Tapi lupakan itu dulu.
‘……Sepertinya tidak mudah lolos dari mereka.’
Yang paling masalah adalah—aku kalah cepat dari para siswa. Mereka lebih gesit saat aku melarikan diri.
Meski begitu, aku tetap berhasil kabur. Masuk dan keluar dari dua gedung berturut-turut untuk mengelabui mereka.
Mereka sempat mencoba mengganggu keseimbanganku dari kejauhan dengan [ilusi], tapi aku memutusnya dengan sihir.
Mereka menembakkan belasan ilusi hanya untuk menyembunyikan satu shuriken, tapi aku membuat klon lebih dulu dan itu yang kena.
Bahkan mereka menggunakan ilusi anjing untuk melacak bau, jadi aku membuang mantelku dan terus berlari.
‘Udah lah, nyerah aja, tolong….’
Sayangnya, itu sudah upaya terbaikku. Soalnya lawanku adalah anak-anak yang tidak bisa ditebak gerakannya.
Aku memang yakin bisa menang lawan Hakon secara langsung, tapi tidak bisa menjamin keselamatan dari serangan anak-anak ini.
Kalau aku menggunakan semua “Fragmen Bintang” yang sudah kukumpulkan, mungkin lebih mudah… tapi untuk menghadapi pembunuhan dari para siswa Akademi Naga Tidur dalam jangka panjang, itu tidak cukup. Mereka bisa tumbuh menyamainya, atau bahkan melebihi aku.
Hanya dalam kondisi seimbang di atas tali seperti ini, aku bisa menyelesaikan [mode neraka], dan itulah keadaanku sekarang.
Dengan kata lain, pembunuhan profesor dalam [mode neraka] adalah hal yang tidak bisa dilawan.
【 Derek : <Sialan…. Sialan…!!> 】
【 John : <Kenapa sih?> 】
【 Derek : <Lihat sini! Ada jejak sepatu lagi!> 】
Lagi-lagi… aku bikin kesalahan di mana lagi, sih…….
Saat itu juga, skrip yang muncul terasa lebih emosional dari sebelumnya.
【 John : 】
【 Derek : <Brengsek…! Gimana bisa gak emosi! Kenapa jejak sepatu sekacau ini bisa ada di sini!? Dia sengaja ninggalin itu biar kita lihat! Profesor Dante udah mainin kita dari tadi…!!> 】
Apa sih. Itu jejak emang kebetulan tertinggal aja, kok….
Tapi kenapa suaranya kayak mau nangis sih? Cowok, lho?
【 John : <Hei! Derek, dasar bodoh. Sadar dikit bisa gak?> 】
Tiba-tiba, titik merah di minimap berhenti.
Aku juga berhenti dan menarik napas sebentar.
【 John menampar pipi Derek. 】
Hah?
【 Derek : “Kenapa mukul?!” 】
【 John : “Kamu beneran gak ngerti?” 】
【 Derek : “Apa maksudnya!?” 】
Apa sih. Ini arah cerita ke mana lagi?
Jangan bilang ini… drama pagi?
【 John : <Kudengar lewat komunikasi. Derek. Emang dari awal kamu pikir pembunuhan ini bakal berhasil? Kita bisa bunuh Profesor Dante?> 】
【 Derek : <Itu……!> 】
【 Derek : <…Sulit, sih.> 】
【 John : <Salah, bodoh! Bukan sulit. Mustahil! Kita mau bunuh Profesor Dante yang berhasil ngebunuh Profesor Hakon kayak nggak ada apa-apa!?> 】
【 Derek : <……!> 】
【 John : <Lalu kenapa Profesor Dante terus mau main-main sama usaha pembunuhan kita? Pikirin itu!> 】
Apa emang alasannya?
Aku juga nggak tahu, sih….
【 John : <Karena beliau bantuin kita buat latihan ulang!> 】
Hah. Bebas banget interpretasinya, ya….
【 Derek : <Aah…. Iya, bener juga…….> 】
Apaan yang disadari coba. Itu salah, tahu….
Tapi kalau mereka bisa salah paham begitu, aku sih bersyukur juga.
Tapi entah kenapa, skrip setelah itu terasa makin sedih.
【 Hwaru : <Ayo jangan patah semangat. Lakukan yang terbaik!> 】
【 Derek : <Oke. Kita harus semangat dan coba bunuh profesor lagi!> 】
【 John : <Tsk. Nah, baru itu Derek yang aku kenal.> 】
Cukup.
Ini terlalu cringe, nggak tahan liatnya…….
Yang penting, saat mereka sibuk main drama remaja, aku berhasil mengubah arah pelarian dan menghindari pengejaran sepenuhnya.
‘Udah selesai…?’
Tapi, dalam pengejaran panjang pembunuhan profesor ini, entah bagaimana aku sampai ke dalam hutan bagian terdalam di [Zona 0].
Sudah berada jauh di jalan setapak hutan yang ditinggalkan.
Untuk kembali ke gedung kuliah, aku harus berjalan lumayan lama.
* * *
“Ah, sial… kita benar-benar kehilangan jejaknya.”
“Gimana dengan [White Fang]?”
“Gagal total. Bau juga udah terputus. Sepertinya Profesor Dante menggunakan [ilusi] untuk menyamarkan bau di sini.”
Saat itu, John yang sedang berpikir dalam-dalam, tertawa kecil.
“Wah…. Profesor kita memang luar biasa.”
“Apa maksudmu?”
“Coba pikir. Hari ini, Profesor Dante pernah pakai hal lain selain [ilusi]?”
“Hah?”
Kalau dipikir-pikir, memang begitu.
Katanya, Profesor Dante juga ahli dalam [sihir] dan kemampuan bertarung. Bukankah begitu?
Para pembunuh tingkat [Master] atau bahkan [Grandmaster] biasanya menguasai hampir semua jenis kemampuan.
Profesor Dante pun pasti termasuk dalam kategori itu.
‘Gila. Tidak pakai [langkah ringan], tidak pasang [jebakan], tidak panggil [makhluk pemanggilan]… hanya gunakan [ilusi] saja.’
Selain itu, dia juga jelas-jelas tidak berlari untuk melarikan diri, tapi memberi kami kesempatan untuk mengejar.
Sekali lagi, terasa di hati—fakta bahwa Profesor Dante membantu kami untuk latihan ulang.
‘Di dunia ini, profesor mana yang sampai segitunya buat muridnya…?’
Saat mencoba membunuh, para siswa tentu saja memulainya dengan rasa takut. Karena sudah banyak kasus siswa terluka akibat serangan balik.
Namun Profesor Dante bahkan tidak melakukan serangan balik, apalagi melenceng dari tema pelajaran.
Seolah membuktikan bahwa itu adalah sikap yang seharusnya dimiliki seorang profesor di jurusan pembunuhan.
“…Kita benar-benar beruntung ambil kelas ini.”
“Iya. Beneran.”
Ucapan Derek diangguki oleh para siswa lainnya. Selama satu semester, mereka belum pernah merasa seperti ini, namun dalam beberapa hari terakhir, mereka merasakan perkembangan diri yang begitu jelas.
Berkat pelajaran dari Profesor Dante.
“Ngomong-ngomong, ini tempat apa sih sebenarnya?”
“Hah, iya juga ya? Baru pertama kali ke sini…”
Saat mereka menoleh ke sekitar, suasana sudah gelap. Matahari telah memerah di ufuk. Karena berada di tengah hutan tanpa jalur dan manusia, entah kenapa, perasaan tak enak mulai muncul.
“Hm. Ayo cepat balik.”
“Iya… balik terus makan pizza, yuk.”
“Pizza oke tuh. Kita buka juga bir yang kita simpan kemarin?”
Mereka mencoba mengalihkan topik dengan candaan sepele, namun belum berjalan jauh, hutan pun tenggelam dalam kegelapan sepenuhnya.
“Ngomong-ngomong, Hwaru. Kalau saja Forte ikut juga pasti seru.”
“Hah? Jangan. Forte takut sama Profesor Dante…”
“Ya sih. Bisa dimengerti.”
Percakapan mereka yang semula santai, tiba-tiba terputus.
Karena di kejauhan, seseorang yang tidak dikenal berdiri di tengah hutan.
“…….”
“…….”
Para siswa langsung terdiam.
Mereka semua, tanpa terkecuali, menghentikan langkah.
Orang asing itu pun tidak bersuara. Hening yang canggung menyelimuti suasana.
“…Permisi, Anda siapa?”
Karena dia tidak mengenakan seragam siswa. Saat pertanyaan diajukan, senyum muncul di bibir orang asing dalam gelap itu.
“Kalian sedang apa di sini?”
Suara lembut seorang pria terdengar, tak terduga. Sepertinya pegawai akademi.
Karena itu, Derek sedikit merasa lega dalam hati.
“Ah, kami… sedang latihan pembunuh… eh, maksudnya, latihan, tapi nyasar ke sini.”
“Begitu ya. Tapi tetap saja, kalian tak seharusnya datang ke tempat sunyi seperti ini di jam segini.”
“Ah… iya. Maaf, kami akan segera turun.”
Syukurlah, orang ini tampaknya tidak berbahaya…
Namun kemudian, pria itu kembali berbicara.
“Ini tempat yang berbahaya. Terlalu gelap. Tak ada jalan. Tak ada orang juga.”
“Ah, ya… kami memang agak—”
“Kalian bisa mati, tahu. Dan kalau mati, mungkin tak ada yang bisa menemukan jasad kalian.”
“Maaf…?”
“Kalau kalian mati tercabik-cabik di sini, siapa yang tahu siapa pelakunya? Siapa yang akan temukan mayat kalian?”
“……Apa…?”
Pada saat itu, bukan hanya Derek yang merasa ada sesuatu yang aneh.
Beberapa detik.
Sunyi.
Orang itu masih berdiri di sana, wajah tanpa ekspresi.
Akhirnya, John angkat bicara.
“…Maaf, kami akan segera kembali.”
“Baiklah. Mari kita pergi bersama. Sini.”
“Ah. Itu, kami bisa pergi sendiri kok.”
“Jangan begitu. Ayo bersama. Harus ada orang dewasa.”
“Tidak apa-apa. Kami juga tahu cara—”
“Ayolah, kenapa sih? Di tempat dan waktu seperti ini… bagaimana kalau ada orang yang mengikat tangan-kaki kalian ke pohon, lalu memotong pergelangan kalian pakai gergaji, terus menaruh kepala kalian jauh di dalam hutan dan mengubur kaki kalian di bawah pohon ini?”
Tatapan mata pria itu mulai tidak fokus.
Bicaranya juga jadi semakin cepat.
“Kalau kalian berlima tercabik dan tersebar di seluruh Zona 0, mana bisa dikumpulkan lagi? Lagian ini jurusan pembunuhan, pasti penyelidikannya bakal dibiarin juga. Dan kalian mau aku cuma diem liat itu semua? Enggak, kan? Tapi kenapa kalian nolak? Kenapa sialan ditolak, hah? Emangnya aku bilang mau motong kaki kalian? Atau bilang mau gergaji pergelangan kalian? Nggak, kan dasar bajingan bego. Aku cuma bilang mau antar kalian ke gedung kuliah, tapi kalian malah tolak dan bikin orang malu, gitu!?”
Merinding menjalar ke pipi.
Darah mengalir turun dari wajah dalam sekejap.
“Anak zaman sekarang emang nggak bisa cuma dipukul. Harus dibunuh. Anak bangsat yang nganggep omongan orang dewasa cuma angin lalu harus dipotong-potong dan dibunuh.”
Itu bukan manusia. Begitulah insting mereka merasakan. Tapi dalam tekanan semacam ini, para siswa tak bisa berbuat apa-apa.
Derek yang ketakutan, melirik ke arah John. Tapi John pun tidak tahu harus bagaimana.
“…Tapi kalian anak-anak yang baik, kan? Jadi, ayo ke sini. Atau aku saja yang ke sana. Yuk, kita jalan bareng.”
Dengan suara ramah, pria itu mulai mendekat. Dan Derek mulai gemetar dari ujung jarinya.
“Kalau orang dewasa bicara, dengarkan. Paham?”
Seolah, jika melangkah satu langkah saja, sesuatu akan terjadi. Rasa teror mencekik dan tekanan membunuh yang begitu berat.
Orang dewasa yang perlahan mendekat. Dan para siswa hanya bisa diam membeku. Lalu, pria itu pun hampir sampai.
“Ayo jalan bersama.”
Saat itu.
Dari belakang mereka.
Terdengar suara pelan.
“Pantas saja, harusnya aku sudah membunuhmu dari dulu.”
Tanpa sadar, Derek menoleh ke belakang.
Dan bulu kuduknya langsung berdiri.
Di ujung gelap jalan setapak pegunungan—
Seorang pria sedang berjalan.
“Meski begitu, ini tempat yang cocok untuk kuburan, bukan begitu, Profesor Toxin.”
Tatapan kosong yang biasa tak terlihat lagi.
“Seperti kata orang tadi. Kalau dipotong-potong di sini, pasti tak akan ada yang tahu.”
Mata merah muda yang memancarkan niat membunuh, serta ekspresi yang tenang namun mengerikan—itulah wajah seorang pembunuh sejati.
Namun bagi Derek, kehadiran pria itu, bahwa dia muncul di tempat ini, membawa rasa lega yang tak terlukiskan.
“Wah… ini agak mengejutkan ya. Apa yang membawamu ke sini? Ah, sepertinya ini perkenalan pertama kita juga ya?”
Monster itu menyeringai getir dan menyebut nama pria tersebut.
“…Profesor Dante Hiakapo.”