Deep Sea Embers

Chapter 667: Reflection in the Eye

- 7 min read - 1421 words -
Enable Dark Mode!

Bab 667: Refleksi di Mata

Di ujung terluar benua yang hancur, di tengah hamparan kegelapan yang luas, sesosok raksasa yang bertugas menopang daratan melihat sebuah kapal hantu melintas. Dewa kuno yang telah lama mati ini menggerakkan matanya yang besar dan berkabut. Terbangun sejenak dari tidur abadi, mata itu kembali hidup, mengamati para penyusup di wilayahnya.

Duncan mengamati mata itu dengan saksama, tubuhnya semakin menegang. Meskipun ia kebal terhadap ‘kerusakan mental’, pemandangan yang luar biasa itu terasa berat baginya, hampir membuatnya tercekik. Meskipun demikian, ia tetap tenang, memilih untuk tidak bereaksi terhadap tatapan raksasa itu. Tanpa suara, ia membiarkan The Vanished terus melewati sosok raksasa itu, mengamati saat mata raksasa itu mencapai batas lacaknya dan perlahan menghilang dari pandangan seiring kapal melaju.

Raksasa besar, pucat, bermata satu itu tetap diam, terus-menerus memikul benua di punggungnya, melayang diam-diam di kehampaan tak berujung.

Tiba-tiba, ‘Tengkorak Mimpi’ berbicara dari belakang Duncan: “Raksasa itu adalah yang pertama mati.”

Duncan segera berbalik, memusatkan pandangannya pada artefak yang terletak di atas meja.

“Apa katamu?” tanyanya meminta klarifikasi.

“Raksasa itu yang pertama mati,” ulang Tengkorak Mimpi, nada dan pesannya tidak berubah. Meskipun Duncan telah menyelidikinya lebih lanjut, tengkorak itu tidak mengungkapkan detail tambahan.

Menyadari bahwa hanya itu informasi yang akan diberikan oleh ‘fragmen dewa kuno’, Duncan menghentikan pertanyaannya. Ia dengan penuh pertimbangan menoleh kembali ke sosok raksasa kolosal yang memudar, bergumam, “Di antara bintang-bintang yang hancur, pada malam pertama yang panjang, Raja Raksasa Pucat menemui ajalnya…”

Saat ia mengucapkan nama “Raja Raksasa Pucat”, sebuah suara samar terdengar di kegelapan tak berujung di luar jendela kapal, menyala sebentar sebelum menghilang seperti angin sepoi-sepoi.

Duncan melirik sekali lagi ke arah raksasa bermata satu itu, raut wajahnya tampak berpikir. Setelah jeda singkat, ia bergerak menuju pintu kabin kapten.

Dia melirik sekali lagi ke arah ‘Tengkorak Mimpi’ di tabel navigasi.

Mengabaikan tatapan mengganggu yang diarahkan padanya, Duncan keluar dari kabin kapten.

Ia menaiki tangga miring menuju kemudi di atas kabin kapten, melintasi dek yang gersang dan tak rata. Di kemudi, roda kemudi besar berdiri, bergerak halus di latar belakang subruang yang gelap.

Mendekati roda yang gelap dan tangguh itu, Duncan menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri menghadapi tantangan di depan.

Duncan hendak memulai petualangan yang berani — mengemudikan The Vanished yang babak belur melalui subruang yang tak diketahui hanyalah permulaan.

Dengan sarafnya yang tenang, dia memegang kemudi dengan erat, melepaskan kekuatan api yang dahsyat.

Dalam sekejap, kobaran api berkobar, tak terlihat namun nyata, dengan cepat menyelimuti kapal dalam badai api spektral yang lenyap secepat kemunculannya di kehampaan. Duncan langsung merasakan perluasan indranya, disertai sensasi ‘hampa’ yang aneh dan familiar saat api padam.

Dia dapat merasakan kembali hakikat The Vanished, hakikat spektralnya, seakan-akan api itu adalah perwujudan langsung dalam subruang, berinteraksi semata-mata dengan kekosongan yang dingin.

Namun kali ini, Duncan sudah siap. Ia tetap menggenggam kekuatan berapi-api itu, tak terpengaruh oleh sensasi kekosongan yang meresahkan. Mengabaikan perasaan mencekam karena tak terlindungi dan terombang-ambing di subruang, ia lebih fokus pada roda itu, berusaha memberinya substansi nyata untuk mengendalikan kapal eterik itu.

Di bawah kemudi, derit dan erangan terdengar, menandakan kehidupan. Seluruh kapal hantu itu mulai bergetar halus, layarnya yang tak terlihat menangkap angin yang tak terlihat. Sorak-sorai, seolah dari alam yang jauh, bergema di sekelilingnya, seolah entah dari mana.

Kapten telah mengambil alih komando.

Duncan dengan lembut mengendalikan kemudi, mengarahkan kapal hantu yang kini terombang-ambing dalam kegelapan, agar mulai miring sedikit, dengan patuh mengubah arahnya di bawah arahannya.

Rasa kagum dan kemenangan membuncah dalam dirinya saat ia berhasil mengemudikan kapal hantu itu melalui kerumitan subruang, menemukannya lebih mulus dan lebih intuitif daripada bernavigasi di alam fisik.

The The Vanished melakukan putaran menyapu 180 derajat di kehampaan, menyelaraskan diri dengan pecahan langit yang tampak terkoyak dari sebuah planet. Raksasa pucat bermata satu itu kembali terlihat saat Duncan mengemudikan kapal kembali ke arah dewa kuno itu.

Saat mereka mendekati raksasa itu, mata gelapnya yang menyendiri kembali hidup, diam-diam mengawasi Duncan dalam kegelapan.

Duncan tetap tenang dengan pengamatan diam-diam ini — dari pertemuan mereka sebelumnya, ia tahu tatapan raksasa itu tidak berpengaruh padanya. Alih-alih merasa khawatir, ia justru merasa semakin ingin tahu tentang wawasan baru apa yang mungkin terungkap.

The The Vanished perlahan mendekati wajah raksasa itu, mata yang gelap menjadi semakin dominan dalam pandangan Duncan, akhirnya memenuhi seluruh sisi kapal.

Duncan menghentikan kapal, melepaskan kemudi, dan berjalan ke sisi kapal untuk memeriksa mata kapal lebih dekat.

Mata raksasa itu, yang telah membusuk dan terselubung kabut pucat, bergerak sedikit, pupilnya yang kosong menoleh ke arahnya. Di permukaannya yang berkabut, Duncan melihat bayangannya sendiri, terdistorsi dan tampak seperti hantu.

“…Apa yang kau lihat?” bisiknya, didorong oleh dorongan misterius.

Tak ada jawaban—raksasa itu benar-benar mati. Gerakan matanya tampak hanya ‘gerakan sisa’, kedutan mekanis yang tersisa dari dewa kuno itu setelah kematiannya, atau mungkin ‘getaran’ kecil dari mayat raksasa itu, yang menciptakan kesan kehidupan yang menipu.

Suatu pikiran terlintas di benak Duncan saat itu, sebuah frasa yang menggambarkan pemandangan mengerikan di hadapannya: dalam cahaya bara api yang memudar setelah semua kehidupan berakhir, wujud tak bernyawa para dewa kuno berkuasa atas abu dunia.

Bahkan dalam kematian mereka, dewa-dewa kuno ini, yang membentang lintas zaman, terus menunjukkan suatu bentuk ‘aktivitas’. Kematian mereka merupakan keadaan yang aneh dan tak terlukiskan. Entah hancur berkeping-keping seperti Goathead atau dipelintir menjadi bentuk yang tak terpahami, ‘aktivitas’ ini tampaknya ditakdirkan untuk bertahan selamanya.

Duncan tidak sepenuhnya memahami hakikat para ‘dewa’ atau ‘raja-raja kuno’ ini, keberadaan mereka saat ini, atau sifat sejati mereka. Namun, melalui pertemuan dengan Raja Raksasa Pucat ini, ia merasa perlahan-lahan mendekati suatu ‘kebenaran’ yang mendalam.

Kemudian, perhatian Duncan menajam, mengira ia telah melihat sesuatu di dalam mata raksasa yang berkabut dan keruh itu. Bayangan-bayangan tersembunyi seakan mengintai di sana.

Mencondongkan tubuh lebih dekat, Duncan mengamati pantulan yang kabur dengan lebih saksama, mencoba membedakan gambar yang jelas dari bayangan samar yang dibentuk oleh waktu. Perlahan-lahan, sebuah penglihatan mulai terbentuk.

Pertama, ia melihat sosok kolosal berwajah makhluk laut yang agung, memancarkan aura agung. Sosok ini berdiri tegak, diikuti oleh sosok humanoid yang diselimuti api. Di belakang keduanya muncul benda-benda bercahaya redup yang tersusun rapi di atas kubus besar…

Di antara gambar-gambar ini, terdapat pula siluet raksasa berjubah hitam, menyerupai mayat yang membusuk. Bentuknya bengkok dan tak terlukiskan, bagaikan awan gelap yang menaungi yang lain, menghasilkan bayangan-bayangan yang mengerikan. Ia memiliki tungkai yang tinggi dan bengkok, dihiasi duri-duri, dengan lengkungan cahaya keemasan halus yang berkelap-kelip…

Sosok-sosok spektral yang misterius ini terpantul di mata tunggal sang raksasa, masing-masing dengan bentuknya yang unik dan aneh, berputar diam-diam dalam kegelapan.

Duncan menatap takjub sosok-sosok ini, yang, meski hanya pantulan, tampak memancarkan kekuatan luar biasa. Butuh hampir setengah menit baginya untuk memahami apa yang dilihatnya — “panteon”, patung-patung “Raja-Raja Kuno”.

Pemandangan yang terpantul di mata raksasa itu berasal dari era yang telah lama hilang — masa antara Pemusnahan Besar dan Era Laut Dalam, pada suatu malam di zaman kuno. Para makhluk agung ini berkumpul di sini, berdiri dalam keheningan khidmat di sekitar raksasa itu, wajah mereka selamanya terekam dalam matanya yang keruh.

Itu adalah sebuah peringatan.

Gambar di mata raksasa itu menangkap momen dari zaman dahulu kala: saat setelah kematian Raja Raksasa Pucat di awal penciptaan, sebuah peristiwa khidmat di mana para dewa berkumpul untuk mengucapkan selamat tinggal.

Pikiran Duncan berpacu, membuat banyak koneksi. Ia mencoba mencocokkan sosok-sosok di mata raksasa itu dengan legenda-legenda yang dikenal di dunia fana, mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang baru saja diperolehnya. Ia tersadar bahwa, selain empat dewa yang dikenal dan beberapa dewa kuno, banyak entitas dalam pantulan itu yang tidak dikenal di zaman sekarang.

Memang, lebih dari separuh tokoh ini sama sekali tidak dikenalnya, tidak ada dalam catatan sejarah arus utama maupun mitos-mitos budaya pagan kuno yang tidak jelas dan terkadang sesat.

Duncan berdiri dalam keheningan yang penuh perenungan.

Jika setiap “dewa” mewakili peradaban yang pernah perkasa dan selamat dari kehancuran dahsyat dunia mereka, maka tampaknya lebih dari separuh “Dewa Kuno” ini telah lenyap tanpa jejak sebelum fajar malam ketiga yang panjang. Keberadaan mereka, apalagi nama mereka, tidak terlestarikan, bahkan dalam ‘Kitab Penghujatan’ yang samar.

Ironisnya, mereka seperti Raja Raksasa Pucat dan Raja Mimpi, yang musnah di era penciptaan, adalah orang-orang yang lebih beruntung di antara para penguasa yang terlupakan ini.

Duncan menghela napas pelan dan melangkah mundur, bersiap meninggalkan tempat yang penuh kenangan kuno ini. Namun, dalam renungannya, ia menyadari detail lain. Bayangannya sendiri terpantul di mata tunggal sang raksasa, di antara wajah-wajah para Raja Kuno, seolah membeku dalam aliran waktu yang abadi. Ada ruang di sana, berukuran sempurna untuknya, tidak terlalu besar maupun terlalu kecil. Seolah-olah sebuah tempat telah disediakan untuknya, seolah ditakdirkan sejak zaman dahulu kala ketika makhluk-makhluk ini berkumpul untuk meratapi Raja Raksasa Pucat.

Prev All Chapter Next