Deep Sea Embers

Chapter 597: Flow of Light

- 8 min read - 1543 words -
Enable Dark Mode!

Bab 597: Aliran Cahaya

Sejak Duncan menemukan kapal The Vanished lain yang hanyut di jurang kegelapan dan kabut yang seakan tak berujung, ia selalu waspada mendekati kemudinya, apalagi mengambil kendali. Kewaspadaan ini muncul karena ia belum terbiasa dengan kapal itu dan takut akan bagaimana kapal itu akan merespons intervensinya.

Namun, seiring Duncan menyelidiki lebih dalam, ia menyadari bahwa kapal ini bukanlah The Vanished asli yang ia kenal, melainkan versi gema atau bayangan. Kondisi kapal doppelganger ini terjadi karena trans atau kondisi yang dipicu mimpi yang ditimbulkan oleh entitas yang disebut kepala kambing. Menyadari hal ini, kekhawatiran Duncan mulai mereda.

Waktunya telah tiba bagi Duncan untuk menegaskan otoritasnya atas kapal yang lahir dari mimpi ini.

Dengan metodis, Duncan mendekati dek kapten kapal yang terletak di buritan. Setiap langkah yang diambilnya bergema saat menghantam engsel besi dan tali melingkar yang membatasi area kemudi. Tali-tali itu, terselubung dalam kegelapan pekat, teronggok seolah menunggu sesuatu. Kemudi, yang dicat dengan warna gelap, bergoyang sedikit di tengah dek, mengisyaratkan bahwa kepala kambing mungkin masih berada di kemudi.

Sesampainya di kemudi kapal, Duncan berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Kenangan saat pertama kali ia memegang kemudi, sensasi yang ia rasakan saat menyentuhnya, menghantuinya. Namun ia bukan tipe orang yang mudah terlena dalam nostalgia; ia menepis pikiran-pikiran itu dan dengan lembut meletakkan tangannya di jari-jari kayu kemudi. Sentuhannya terasa sejuk dan memberikan sedikit dorongan.

Duncan siap menghadapi perlawanan yang menggetarkan ini. Ia memanggil api keselamatan yang dibawanya dari kapal, mengarahkannya ke arah kemudi dengan cengkeraman yang kuat.

Hampir seketika, sulur-sulur api halus muncul dari kehampaan, menerangi sekeliling. Api dari dunia lain ini dengan cepat berkobar di atas dek kapten, mengubah Duncan menjadi sosok hantu. Api itu tak menyisakan apa pun, melilit kemudi dan seluruh area kemudi.

Merasakan kapal itu bergeser dalam genggamannya, Duncan kini dapat memahami setiap aspeknya dalam benaknya, sejelas ia memahami The Vanished yang sesungguhnya di dunia nyata. Ia merasakan tekstur dek, tiang-tiang yang menjulang tinggi, setiap layar, semua tali, dan bahkan kabin-kabin tersembunyi di bawahnya.

Kapal itu seakan hidup kembali, menunjukkan kehadirannya dengan simfoni derit dan rintihan. Seolah-olah kapal ini, yang terbuat dari mimpi dan bayangan, tiba-tiba menyadari siapa kaptennya yang sebenarnya. Benda-benda yang tak bergerak, seperti tali dan tong, mulai bergerak dalam cahaya redup.

Dengan layar-layarnya yang seperti hantu, Duncan merasakan momentum kapal meningkat. Kapal itu tampaknya telah menemukan tujuannya, mengarahkan dirinya menuju jalur yang tak diketahui di tengah kegelapan yang menyelimuti.

Duncan terhuyung kaget melihat kapal melaju kencang secara tiba-tiba dan tak terduga di tengah kegelapan yang tak terduga. Saat ia mencoba memahami situasi yang sedang berlangsung, sebuah suara menakutkan, yang seolah datang entah dari mana dan datang dari mana-mana secara bersamaan, bergema di benaknya: Siapa di sana?

Suaranya lembut, mengingatkan pada seorang gadis muda, diwarnai kebingungan dan kekaburan seseorang yang terombang-ambing antara tidur dan terjaga. Suara itu seakan bergema tanpa henti di kehampaan tak terbatas di sekitar Duncan. Saat ia memprosesnya, sebuah cahaya lembut mulai terbentuk di kejauhan, menampakkan entitas raksasa yang tampaknya sedang bertabrakan langsung dengan The Vanished.

Duncan terperanjat, entitas itu tampak seperti pusaran raksasa, dengan sulur-sulur yang tak terhitung jumlahnya, seperti sulur anggur dan cabang, memanjang dari intinya. Sulur-sulur ini menjulur dengan kecepatan yang luar biasa, melilit dan mengisi hampir setiap celah di luar kapal. Dalam pandangan Duncan, labirin vegetatif raksasa ini sepenuhnya mendominasi, bergerak dan menyesuaikan diri seiring kapal melaju.

Seolah-olah The Vanished telah ditelan oleh terowongan organik. Dinding dan langit-langit ruang luas ini dibentuk dari jalinan sulur dan cabang, menciptakan sensasi takjub sekaligus gelisah. Dari dinding-dinding hidup ini muncul segudang cahaya lembut yang mengalir dan beriak bagai sungai.

Perlahan-lahan, bola-bola cahaya ini bergerak menuju The Vanished, menuju dek buritan tempat Duncan berdiri. Di dalam kilauan cahaya ini, sesuatu tampak terbentuk, tetapi bentuknya tetap samar. Mereka terus bergerak maju, seolah mencari sesuatu atau seseorang.

Dengan pemandangan yang terbentang menyelimutinya dan cahaya-cahaya yang semakin mendekat, tekad Duncan menguat. Ia berpegangan erat pada kemudi kapal, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Ia mengamati sulur-sulur tebal dan gelap yang bergerak tepat di luar kapal, dan merasakan The Vanished kehilangan kecepatan seolah-olah ada kekuatan lain yang menghalangi lajunya. Cahaya-cahaya itu akhirnya membentuk lingkaran cahaya yang berputar-putar di sekelilingnya, dan suara lembut yang familiar dan menghantui itu bergema sekali lagi: Siapa itu? Siapa di sana?

Mata Duncan terpaku pada tarian cahaya yang memukau di sekelilingnya yang terus mengitari kemudi kapal. Suara itu, yang diwarnai kepolosan dan kerinduan, terus terngiang dalam pikirannya:

Apakah itu kamu, Saslokha? Apakah kamu akhirnya kembali? Sudah lama sekali.

Di mana kamu? Aku tidak bisa melihatmu. Bisakah aku membuka mataku sekarang? Apakah semuanya telah berlalu?

Aku sepertinya tidak bisa membuka mataku, Saslokha. Kegelapan ini meresahkan. Aku merasakan ada seseorang di dekatku.

Aku sudah melakukan yang terbaik. Aku sudah membangun penghalang untuk melindungi mereka. Begitu kau di sini, kau bisa melihat apa yang telah kulakukan, tapi di mana kau? Tidak bisakah kau mendekat?

Cahaya gemilang itu terus menari-nari dengan saksama, mengitari kemudi dan sesekali berkumpul menjadi bola cahaya pekat, lalu menghilang kembali menjadi kilauan yang kacau. Cahaya halus ini beberapa kali mendekati kemudi kapal, bahkan menyerempet tepian pakaian Duncan, menyentuh ujung lengan baju dan ujung mantelnya.

Akan tetapi, dia tampaknya sama sekali tidak menyadari keberadaan Duncan.

Seolah-olah dia mengalami gangguan penglihatan atau bahwa Duncan dan suara itu berasal dari alam yang berbeda, hidup berdampingan namun terpisah oleh lapisan realitas atau mungkin dimensi.

Saat Duncan mengamati tarian cahaya yang tak terduga, ia terus-menerus tertarik pada suara itu, yang seolah bergema dari dalam pikirannya. Ketika cahaya itu mendekat, ia dapat dengan jelas merasakan kehangatan lembut darinya. Kata-kata yang berulang dari suara itu mengisyaratkan makna yang lebih dalam dan tak terucapkan. Menarik napas dalam-dalam dan mengatasi keengganan awalnya, Duncan memilih untuk terlibat—ia tetap memegang kemudi kapal dengan satu tangan dan mengulurkan tangan lainnya ke arah jejak cahaya yang berkilauan itu.

Saat cahaya menyentuh telapak tangannya yang terentang, Duncan merasakan kehangatan dari dunia lain.

Ia bergerak cepat melewati tangannya, pergi secepat datangnya, memberikan sensasi seolah telah menyeberang ke alam eksistensi lain.

Namun, dalam interaksi singkat itu, sebuah pemahaman mengalir di benak Duncan—dia tak hanya mengenali, tetapi juga mengetahui identitas entitas bercahaya dan suara itu. Dialah Atlantis, Pohon Dunia mistis yang dipuja para Peri.

Wahyu ini seakan terukir dalam kesadaran Duncan, menggarisbawahi sifat transformatif dari pengetahuan yang mendalam.

Duncan, yang sempat terguncang oleh kenyataan itu, segera ditarik kembali ke masa kini oleh sensasi yang mengagetkan.

Hampir seketika, kapal bergetar. The The Vanished, yang berlayar menembus kabut tipis, mulai bergetar hebat. Kegelapan di sekitarnya dengan cepat menyerap layar-layar yang redup, retakan terbentuk di dek, dan seluruh kapal tampak kabur, hancur berkeping-keping. Selain itu, kemudi yang dipegang Duncan mulai kehilangan bentuknya, hancur di antara jari-jarinya.

Hal ini membuat Duncan memiliki sebuah skenario yang harus ia susun: Integritas struktural mimpi itu runtuh; titik puncak kebangkitan sudah dekat.

Namun, ia berhati-hati agar tidak membangunkan Atlantis dengan api, dan selama interaksi singkat mereka, ia tidak mendeteksi tanda-tanda Atlantis terbangun dari tidurnya. Jadi, mengapa struktur mimpi itu memburuk begitu cepat?

Introspeksi Vannas tiba-tiba buyar oleh hembusan angin yang tiba-tiba di gurun tandus. Melompat berdiri dari tempatnya yang tersembunyi di balik gugusan batu, tatapannya langsung tertuju pada asal muasal serangan pasir itu.

Dari kejauhan, pasir menjulang bagai raksasa monolitik, dan jarak pandang cepat berkurang saat bercampur dengan kabut gurun.

Pulih dari keterkejutan awalnya, sebuah pesan dari kapten kapalnya bergema di benak Vanna: Mimpi tentang Yang Tak Bernama mulai goyah; pelayaran impian itu hampir berakhir.

Badai pasir yang menerjang dan distorsi di cakrawala merupakan tanda-tanda yang jelas tentang batas dekat antara mimpi dan kenyataan.

Berputar pada tumitnya, tatapan Vanna tertuju pada api unggun, kobaran api yang dulu menyala kuat kini hanya tinggal bara api.

Di seberangnya, raksasa purba itu perlahan mengangkat pandangannya. Di dalam rongga matanya yang luas dan cekung, api yang tenang menari-nari.

Pelancong, pertemuan singkat kita hampir berakhir, suaranya yang dalam bergemuruh.

Vanna yang mendapati dia lengah, bertanya, Bagaimana kamu bisa tahu hal itu?

Ia menjawab dengan nada merenung, “Meskipun aku mungkin tak memahami detailnya, aku bisa merasakan akhir perjalanan yang singkat. Kau akan meninggalkan tempat ini, kan?” Dengan lembut, tambahnya sambil berdiri, menjulang di atas lanskap, “Esensimu berbeda, membawa vitalitas yang tak pernah dilihat oleh alam yang rusak ini selama berabad-abad.”

Sambil terbata-bata, Vanna mencari kata-kata. Saat mimpinya hampir musnah, rasanya ia hanya punya waktu singkat untuk mengucapkan selamat tinggal.

Raksasa itu tertawa kecil pelan dan merdu, sambil membungkuk untuk mengambil tongkat hiasnya.

Mata Vanna terbelalak saat ia mengamati tulisan-tulisan baru yang menghiasi tongkat itu, yang bahkan lebih tinggi daripada pemiliknya yang besar. Tulisan-tulisan itu tampak seperti glif atau simbol, memancarkan keakraban yang luar biasa. Sesaat, ia merasa hampir memahaminya, tetapi esensinya lenyap dengan cepat.

Itu adalah naskah yang tidak diketahuinya.

Dengan harapan, takdir kita akan saling terkait sekali lagi, suara merdu sang raksasa menerobos lamunannya, dan mungkin, lebih cepat dari yang Kamu perkirakan.

Bingung, Vanna mencari klarifikasi. Apa yang membuatmu berkata begitu?

Dengan mata berbinar, raksasa itu memberi isyarat pada tongkatnya, Karena ada kisah di tongkat ini yang belum selesai.

Sebelum Vanna dapat menyelidiki lebih jauh, badai pasir yang menyelimuti dengan cepat menyerbu, menghapus pandangannya sementara alam mimpi bergetar dan mulai hancur.

Beberapa saat kemudian, dunia mimpi yang terpecah-pecah itu bertransisi mulus ke dalam suasana rumah tangganya yang sudah dikenalnya, ruang tamunya yang nyaman, meja makannya yang biasa, dan langit-langit yang dapat dikenali.

Wajah-wajah yang dikenalnya dengan baik juga muncul di hadapannya.

Prev All Chapter Next