Deep Sea Embers

Chapter 574: Awakening from the Dream

- 8 min read - 1639 words -
Enable Dark Mode!

Bab 574: Bangun dari Mimpi

Duncan langsung merasa terkejut ketika patung kayu hitam berukir rumit berbentuk kepala kambing di atas meja tiba-tiba berubah menjadi hidup. Ia tak pernah menyangka akan menyaksikan transformasi sedingin itu di atas “The Vanished”, sebuah kapal yang dalam kasus ini terasa seperti ilusi yang tak terjelaskan. Matanya terpaku pada sosok kayu yang berputar perlahan itu, sementara gelombang kewaspadaan menggelegak dalam dirinya. Kemudian, ia menyadari: sosok itu tak bisa “melihatnya”.

Alasannya unik—Duncan mengamati pemandangan misterius itu melalui metode supernatural. Ia terhubung ke dimensi ini melalui api hantu halusnya sendiri, yang berarti hanya pikiran dan indranya yang diproyeksikan ke dalam realitas ini. Ia tidak secara fisik memanifestasikan dirinya di sini. Jadi, ukiran kepala kambing itu tampaknya merasakan aura spiritualnya, tetapi bingung tentang sumbernya.

Ukiran hitam itu mulai berputar perlahan di atas dudukan kayunya, menghasilkan derit lembut yang menghantui. Suara-suara ini terasa sangat mengganggu di tengah kesunyian mencekam yang menyelimuti kabin kapten di atas “The Vanished” ini. Terbuat dari obsidian, mata hitam pekat sosok itu berputar tanpa tujuan, melewati titik di mana kesadaran Duncan diproyeksikan berkali-kali. Akhirnya, ia berhenti bergerak dan bergumam dengan suara rendah dan grogi, seolah-olah sedang setengah tertidur, “Siapa… di sana…”

Duncan merasa tidak nyaman dengan respons sosok itu. Sosok itu jelas merasakan sesuatu, tetapi mengapa ia tidak mengenali aura itu sebagai milik “Kapten” kapal? Setelah merenung sejenak, Duncan akhirnya mengambil keputusan.

Ikatan eterik yang terjalin oleh api hantunya tiba-tiba menguat. Menggunakan api sebagai saluran, Duncan mencurahkan kehendaknya ke dalam ruang yang remang-remang dan berkabut ini. Dengan cepat, ia memanifestasikan wujud fisiknya, bertekad untuk mengungkap misteri di balik kapal misterius yang berlayar menembus kabut tebal dan kepala kambing aneh yang telah menarik perhatiannya.

Saat “The Vanished” berlayar menembus kegelapan dan kabut, api hijau samar sesekali muncul di sekitar dek kapal. Semburan tipis api hantu akhirnya muncul dari udara tipis di dalam kabin kapten yang remang-remang. Api itu berderak dan mendesis saat membesar dengan cepat, membentuk sosok Duncan yang tinggi.

Saat Duncan menampakkan diri secara fisik, koneksinya dengan dunia misterius dan gelap ini menjadi luar biasa kuat. Namun, hampir di saat yang bersamaan, ia merasakan perubahan di lingkungannya. Atmosfer yang berkabut dan struktur kapal seakan merespons suatu stimulus yang tak dikenal. Segala sesuatu di sekitarnya tiba-tiba kabur, menjadi surealis dan terdistorsi. Perasaan tak diinginkan, seolah kabut gelap itu secara aktif melawan api halusnya, memancar dari segala arah. Rasanya dunia asing yang ia masuki berada di ambang kehancuran yang cepat.

Duncan merasakan gelombang keheranan menerpanya saat ia merasakan penolakan aktif yang belum pernah terjadi sebelumnya dari ruang misterius itu. Sepanjang penyelidikannya di masa lalu—entah memeriksa peti mati roh Alice, mengutak-atik kunci putar kuningan yang misterius, atau meneliti berbagai artefak okultisme yang disita dari para pemuja setan—api hantu halusnya belum pernah menimbulkan respons sekeras itu.

Ia mulai bertanya-tanya apakah alam yang tak lazim ini memiliki semacam “kesadaran” yang aktif dan kuat. Pikiran-pikiran yang mencengangkan ini berkecamuk di benaknya, tetapi ia tahu sekarang bukan saatnya untuk analisis mendalam. Stabilitas hubungannya dengan tempat ini terasa rapuh, jadi ia mengalihkan fokusnya untuk menstabilkan keberadaannya yang halus sambil dengan hati-hati mendekati kepala kambing yang bertengger di meja navigasi.

Seolah terbangun dari lamunannya, ukiran kayu hitam itu tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Duncan. Bagi sosok yang hidup itu, kemunculan Duncan yang tiba-tiba—tubuhnya yang tinggi dan api hijau bak hantu—pasti terasa seperti semburan cahaya yang mengganggu, menembus ketenangan mimpi yang gelap dan terpencil. “Siapa kau?” tanyanya dengan suara yang diwarnai kebingungan.

“Sepertinya kau tidak mengenaliku,” ujar Duncan lantang, tidak terlalu terkejut mengingat kejanggalan yang ia rasakan sebelumnya. Berjuang mempertahankan hubungannya yang rapuh dengan lokasi misterius ini, ia segera menilai situasi di atas “The Vanished” dan mengamati kepala kambing yang mencurigakan di hadapannya. “Aku Duncan Abnomar—siapa namamu?”

“Duncan… Ah, nama itu terdengar familiar,” gumam kepala kambing itu, suaranya parau dan melamun seolah-olah setengah sadar. Ia gagal menjawab pertanyaan Duncan secara langsung. “Tapi aku tidak ingat… kenapa kau di sini… kenapa kami semua ada di sini…”

Kerutan muncul di dahi Duncan.

Ia bisa merasakan koneksi yang sudah renggang dengan ruang gelap yang diselimuti kabut ini mulai melemah. Seolah-olah area itu sendiri mencoba mengusirnya, atau lebih tepatnya, memadamkan api halusnya. Yang menambah kekhawatirannya, kepala kambing itu tampak terperangkap dalam kondisi setengah sadar, tak mampu memberikan informasi berguna apa pun.

Setelah berhenti sejenak untuk menenangkan pikirannya, Duncan melangkah maju dengan hati-hati dan menunjuk ke peta laut di samping kepala kambing yang membingungkan itu. “Di mana The Vanished berlayar?”

Beberapa saat berlalu sebelum kepala kambing itu dengan lesu memproses pertanyaan Duncan. Dengan susah payah memutar lehernya yang terpahat, ia melirik peta navigasi, yang secara menarik menampilkan lanskap hutan, alih-alih peta laut. Setelah jeda yang lama, ia bergumam hampir tak jelas, “Oh, bagus, mereka masih di sana…”

“Siapa?” balas Duncan langsung, urgensinya meningkat. “Siapa—”

Sebelum dia dapat menyelesaikan pertanyaannya, seluruh tempat itu diguncang oleh getaran yang hebat dan menggetarkan serta lolongan rendah yang mengerikan yang tampaknya berasal dari struktur alam itu sendiri.

Sensasi penolakan itu semakin kuat secara eksponensial, seolah-olah jalinan ruang-waktu di alam misterius ini sedang melawan serbuan api hantunya. Duncan dapat mendengar suara-suara berderak samar bergema di sekelilingnya, seolah-olah api halusnya bersentuhan dengan penghalang tak kasat mata namun tak tertembus. Semua sensasi yang ia rasakan melalui api-api ini menjadi kacau, seolah-olah tersaring oleh lapisan kabut.

Menundukkan pandangannya, Duncan menyadari bahwa wujudnya yang terproyeksi semakin kabur, hampir tembus cahaya. Rasanya seolah-olah tali halus yang mengikatnya ke dunia penuh teka-teki ini mulai terurai, siap putus kapan saja.

Ia mempertimbangkan untuk menggunakan kekuatan yang lebih kuat untuk mengatasi perlawanan ini dan mempertahankan koneksinya, tetapi ragu-ragu. Kini, ia menyadari bahwa tanaman merambat raksasa itu—dan mungkin alam itu sendiri—bisa jadi berakal budi atau bahkan “hidup”, dan ia mempertanyakan etika dan kebijaksanaan dalam memaksakan kehadirannya.

Pada saat itu, kepala kambing di meja navigasi tampaknya akhirnya menyadari gangguan di sekitar Duncan. Matanya menyipit menatap api hijau yang berkobar, dan setelah jeda sesaat, ia bergumam begitu samar hingga hampir tak terdengar, “Ah, kau membuatnya takut…”

“Siapa yang sudah kutakuti?” tanya Duncan segera, memanfaatkan informasi baru itu.

“Atlantis,” jawab kepala kambing itu, suaranya melemah seolah hendak kembali ke alam mimpi. “Atlantis tidak mengenalmu, dan kehadiranmu membuatnya takut.”

Atlantis? Nama itu mengirimkan gelombang asosiasi dan pertanyaan di benak Duncan. Apakah ini “Pohon Dunia” yang dibicarakan dalam cerita rakyat elf kuno?

Tepat saat ia bersiap untuk menggali lebih dalam dengan lebih banyak pertanyaan, sensasi keterputusan yang kuat menerpanya. Rasanya seperti ditarik paksa dari realitas alternatif ini. Lingkungan di sekitarnya—kabin kapten, meja navigasi, peta laut—semuanya larut dalam kegelapan yang tak tertembus. Hanya gumaman samar kepala kambing yang tersisa, bergema di kehampaan. “Ah, sudah waktunya—dia bangun.”

Detik berikutnya, Duncan merasakan sensasi tersentak yang menyadarkannya kembali ke dunia nyata. Ia secara naluriah menarik napas dalam-dalam dan membuka mata, hanya untuk mendapati wajah Alice yang seperti boneka melayang hanya beberapa sentimeter darinya.

Terkejut oleh kedekatannya yang meresahkan, Duncan tiba-tiba mundur selangkah. Alice menanggapi dengan senyum cerah, mencondongkan tubuh dengan penuh semangat sambil berseru, “Kapten! Kapten! Fajar sudah dekat, dan sepertinya semuanya telah kembali normal di luar!”

Sebelum ia sempat menegur Alice karena telah mengejutkannya, kata-kata Alice menarik perhatiannya. Sambil melihat sekeliling, Duncan menyadari bahwa Alice benar. Hutan lebat yang telah menyerbu dan menyatu dengan arsitektur kota telah lenyap tanpa penjelasan. Bahkan perlengkapan jalan, yang dulunya terjerat aneh dengan tanaman raksasa, kini kembali ke bentuk aslinya.

Lampu-lampu gas yang berpendar lembut berjajar di sepanjang jalan, menerangi area itu dengan cahaya yang menenangkan. Di kejauhan, sinar “cahaya matahari” tampak memancar dari garis pantai yang jauh, memancarkan cahaya hangatnya ke seluruh negeri-kota. Jauh di atas, retakan berbekas Penciptaan Dunia mulai samar-samar terlihat di balik cahaya. Dan di cakrawala, secercah fajar tampak menerobos awan, menandakan munculnya anomali langit berlabel 001.

Meskipun dunia tampak kembali ke keadaan semula, Duncan dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dan firasat buruk yang masih menghantuinya. Seolah-olah ia telah menyentuh tepian sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Duncan mengerjap, matanya secara naluriah tertarik ke lereng yang jauh di dalam blok kota tempat tanaman merambat raksasa pernah muncul dari tanah. Kenangan jelas tentang api hantunya yang menembus kedalaman tanaman merambat itu masih segar dalam ingatannya. Namun, kini lereng itu kosong—hanya lereng biasa tanpa unsur supernatural apa pun.

Layaknya lereng, sisa blok kota telah kembali ke keadaan normal. Saat matahari mulai terbit di cakrawala, kejadian-kejadian aneh malam itu seakan sirna, bagai mimpi yang menguap ditelan cahaya fajar pertama.

Untuk sesaat, Duncan merasa seperti berada di antara kenyataan dan mimpi yang mengerikan. Lingkungan di sekitarnya terasa membingungkan, seperti ruang yang familiar, tiba-tiba terasa asing karena perubahan tak kasat mata. Namun, rasa ketidaknyataan yang membingungkan ini hanya berlangsung sebentar. Setelah menepis perasaan itu, fokus Duncan menajam saat ia mengalihkan pandangannya ke Crown Street.

Dengan memperluas persepsi supernaturalnya ke arah itu, esensi kehidupan yang familiar atau “jejak” mulai muncul di bidang penglihatan metafisiknya—Nina, Shirley, Morris—semua energi yang sebelumnya hilang kini mewujud kembali ke dunia material.

Tepat saat itu, kepala boneka yang dipeluk Alice tiba-tiba hidup. Mulutnya menganga, lalu menutup, dan dari sana terdengar suara Lucretia. “Ayah, sepertinya kita…”

“Aku tahu. Kalian semua sudah kembali, begitu pula lingkungan sekitar,” sela Duncan, tanpa membuang waktu.

Melihat pergerakan di penglihatan tepinya, ia memperhatikan orang-orang perlahan muncul di jalanan. Penduduk setempat, yang tampaknya tak menyadari kejadian supernatural malam itu, melangkah masuk ke dalam cahaya pagi yang semakin terang. Mereka melakukan aktivitas rutin—menyapu trotoar, mengobrol di depan rumah, bergegas berangkat kerja, dan mendiskusikan berita utama kemarin serta ramalan cuaca hari ini.

Seolah-olah seluruh masyarakat kembali menjalani kehidupan sehari-hari, tanpa menyadari bahwa mereka semua baru saja menghilang beberapa jam sebelumnya, ditelan oleh kegelapan malam yang misterius.

Seiring suasana jalanan semakin hidup, Duncan merasakan lapisan keanehan yang mencekam menyelimuti kenormalan yang mulai muncul ini. Seolah-olah dunia sesaat tergelincir ke dimensi alternatif yang tak terjelaskan sebelum kembali ke ritmenya yang teratur dan familiar. Hal ini membuat Duncan tak hanya bingung, tetapi juga sangat tertarik, merenungkan batas antara hal biasa dan hal supernatural, dan betapa cepat dan membingungkannya batas itu dapat bergeser.

Prev All Chapter Next