Deep Sea Embers

Chapter 491: Deep in the Garden

- 10 min read - 2066 words -
Enable Dark Mode!

Visual memukau yang langsung menarik perhatian Duncan adalah lukisan cat minyak besar nan menawan yang tergantung mencolok di dinding paling dekat dengan tangga spiral elegan rumah besar itu. Karya seni itu memiliki skema warna mencolok yang didominasi warna hitam pekat dan merah tua pekat, menciptakan kontras yang hidup dan berani sehingga mustahil untuk berpaling. Lukisan ini adalah salah satu dari beberapa lukisan yang menghiasi dinding luas rumah mewah itu, masing-masing menggambarkan suasana kacau yang terasa seolah-olah baru saja meletus dari mimpi liar yang menggebu-gebu.

Berbeda dengan lanskap atau potret tradisional, lukisan ini menampilkan komposisi abstrak yang kompleks. Garis-garis acak berkelok-kelok di kanvas, berpotongan dengan blok-blok warna, menciptakan pengalaman visual yang memukau bagi siapa pun yang berani mempelajarinya terlalu lama. Makna atau pesan sebenarnya dari lukisan ini tetap sulit dipahami, tersembunyi di balik sapuan dan pusarannya yang rumit.

Saat Duncan terus berfokus pada karya seni, membiarkan matanya mengikuti jalinan bentuk dan rona, ia menyadari bahwa pola-pola yang kacau itu berevolusi menjadi bentuk-bentuk yang jelas. Apa yang awalnya tampak seperti bayangan acak mulai menyatu menjadi garis-garis yang jelas. Gumpalan-gumpalan warna yang tampak acak itu mulai mengambil bentuk-bentuk yang dapat dikenali.

Tiba-tiba, lukisan itu terasa hidup. Lukisan itu menggambarkan kobaran api yang dahsyat, hampir seperti bola api, melesat menembus lapisan awan tebal dan menghantam lautan yang bergolak di bawahnya. Entitas yang berkobar itu membelah langit menjadi dua, dan lautan bergolak hebat di bawahnya, seolah memprotes intrusi itu. Dan di balik pemandangan dramatis ini, tampak sosok yang mengancam, diselimuti warna merah tua, muncul sebagai pertanda akan terjadinya suatu peristiwa apokaliptik.

Menariknya, Duncan mendapati lukisan itu menggemakan sebuah penglihatan sekilas yang pernah ia alami. Dalam penglihatan itu, sebuah pesawat ruang angkasa berbentuk trisula, dilalap api, berputar turun dari langit sebelum meledak dalam cipratan dahsyat ke lautan.

Namun, setelah mengamati lebih dekat, Duncan menyadari bahwa karya seni itu tidak persis sama dengan visinya sebelumnya. Pesawat ruang angkasa dari ingatannya adalah keajaiban teknologi canggih, yang mudah dikenali dari desain futuristik dan penampilannya yang megah. Sebaliknya, objek dalam lukisan itu tampak kuno, bahkan mungkin sebuah kapal kayu, dikelilingi api yang lebih mirip api alami daripada tenaga penggerak canggih sebuah pesawat ruang angkasa.

Seolah-olah sang seniman, yang mungkin hidup di abad pertengahan, telah terdorong ke ambang kewarasan dan memimpikan sebuah kendaraan futuristik. Namun, karena kurangnya konteks atau kosakata untuk memahami sepenuhnya apa yang telah dilihatnya, ia terpaksa menafsirkan teknologi canggih ini melalui sudut pandang artistiknya yang terbatas. Hasilnya adalah sebuah lukisan yang penuh dengan simbol-simbol ambigu dan citraan yang meresahkan.

Tepat ketika Duncan sedang asyik merenungkan lukisan itu, ia disela oleh suara kepala pelayan rumah besar yang tanpa kepala. “Apakah Kamu tertarik dengan lukisan ini, Tuan?” tanya kepala pelayan itu, memecah fokus Duncan yang intens.

Penasaran, Duncan bertanya dengan nada ingin tahu, “Apa yang bisa Kamu ceritakan tentang asal usul lukisan cat minyak yang menghiasi dinding rumah besar ini?”

“Lukisan-lukisan itu selalu ada di sini, Tuan,” jawab kepala pelayan tanpa kepala itu dengan nada yang terukur dan tenang, tidak menunjukkan adanya urgensi.

“Selalu?” desak Duncan, suaranya dipenuhi nada bingung. “Maksudmu sejak bangunan megah ini, yang dikenal sebagai Rumah Alice, didirikan? Atau mungkin maksudmu sejak Alice sendiri mengambil perannya sebagai pemilik rumah ini?”

“Sejak awal mula waktu, Tuan,” sang kepala pelayan bernada, “sebelum adanya peristiwa atau keberadaan apa pun yang dapat dibayangkan.”

Alis Duncan berkerut tanpa sadar, wajahnya menunjukkan kebingungan. Jawaban kepala pelayan itu terasa samar, samar-samar, hampir seperti teka-teki tanpa jawaban. Ia mengamati sosok tanpa kepala di hadapannya, tetapi membaca emosi atau maksud dari makhluk tanpa wajah terbukti mustahil. Yang tersisa hanyalah kata-kata sopan namun hampa.

Setelah berpikir sejenak, Duncan mengajukan dua pertanyaan lagi. “Apakah lukisan yang kita bicarakan ini punya nama? Bisakah Kamu menjelaskan lebih lanjut tentang subjeknya?”

“Lukisan itu, sebenarnya, tak bernama, begitu pula semua lukisan yang menghiasi dinding-dinding ini,” sang kepala pelayan memberitahunya. “Lukisan-lukisan itu ada untuk dirinya sendiri, bebas dari batasan judul atau interpretasi. Mengenai apa yang digambarkannya, aku harus dengan menyesal mengakui bahwa subjeknya melampaui pemahaman aku.”

“Tentu saja, sebagai pengurus rumah tangga di tempat ini, kau seharusnya sudah terbiasa dengan berbagai nuansanya, bukan?” desak Duncan, nada tak percaya terdengar di nadanya.

“Aku hanyalah seorang pelayan, Tuan. Rumah besar ini menyimpan segudang teka-teki, terlindungi dan terpencil di kedalamannya. Pengetahuan tentang misteri semacam itu tidak dimaksudkan untuk berada dalam lingkup tanggung jawab seorang pelayan.”

Secercah kejengkelan muncul di sudut bibir Duncan. Sebagian dirinya ingin mendesak kepala pelayan lebih jauh, mengorek informasi lebih lanjut, tetapi ia segera menepis keinginan itu. Ini adalah Rumah Alice, sebuah tempat dengan adat istiadatnya sendiri yang unik dan bahaya yang tak diketahui. Menantang kepala pelayan bisa membahayakan keselamatan Alice sendiri, jadi ia memutuskan untuk melangkah hati-hati.

Menarik napas dalam-dalam dan tenang untuk menenangkan diri, mata Duncan mengamati berbagai lukisan yang menghiasi lorong yang luas itu. Masing-masing merupakan riam warna dan bentuk abstrak, tetapi tidak seperti lukisan yang awalnya memikatnya, tak satu pun dari lukisan-lukisan itu tampak berubah bentuk di bawah pengamatannya.

Akhirnya, ia berbicara. “Ayo kita lanjutkan,” katanya, merasakan sedikit penyesalan saat mengalihkan pandangannya dari karya seni yang memukau. Beralih ke kepala pelayan tanpa kepala, ia memberikan arahan berikutnya. “Tolong antarkan aku ke taman yang kau sebutkan tadi.”

Kepala pelayan tanpa kepala itu membungkuk sedikit sebagai tanda terima sebelum berbalik untuk melanjutkan tur keliling rumah besar itu. Mereka menuntun Duncan melintasi bordes mewah di lantai dua, lalu menuruni tangga spiral yang dirancang rumit. Sesampainya di lantai satu, mereka menyusuri lorong yang luas, dan akhirnya tiba di koridor sempit yang mengarah ke taman belakang rumah besar yang terpencil.

Namun, sebelum melangkah menyusuri koridor, Duncan ragu sejenak dan menoleh ke belakang. Matanya tertuju ke ujung lorong yang berseberangan, tempat karpet merah mewah nan cerah berpuncak pada sebuah pintu kayu besar berwarna gelap. Pintu itu dibingkai oleh jendela-jendela tinggi dan ramping yang menawarkan sekilas semak berduri yang ditanam tepat di balik kaca.

“Rasanya seperti gerbang menuju seluruh rumah besar,” pikir Duncan keras-keras.

Tiba-tiba, rasa ingin tahu muncul dalam dirinya, dan dia bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang ada di balik pintu itu?”

Begitu pertanyaan Duncan terlontar dari bibirnya, ia melihat kepala pelayan tanpa kepala itu tampak gemetar—perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sikap pelayan yang biasanya tenang. “Aku harus mendesak Kamu, Tuan, untuk menghilangkan rasa ingin tahu tentang apa yang ada di balik pintu itu,” jawab kepala pelayan itu, nadanya tampak gelisah. “Itu adalah jalan menuju takdir yang tak dapat diubah, jurang siksaan abadi.”

“Jalan setapak yang tak berujung?” Mata Duncan menyipit, ekspresinya berubah serius. “Kenapa kau menggambarkannya dengan istilah yang begitu menyeramkan? Mungkinkah itu semacam portal ke dimensi lain?”

“Alam lain, katamu? Aku tak mengerti maksudmu, tapi kumohon, jangan pernah mencoba membuka pintu itu,” sang kepala pelayan memperingatkan. Ia mulai melambaikan tangannya dengan gelisah, jelas gelisah. Pintu itu, tampaknya, sangat sakral—wilayah terlarang di dalam rumah besar yang tak boleh dilintasi siapa pun.

“Namun, aku tidak terikat oleh aturan tempat ini,” tegas Duncan, matanya berbinar-binar dengan semangat yang provokatif. Ia menyadari gejolak emosi kepala pelayan dan menganggapnya sebagai petunjuk penting untuk memahami sifat misterius rumah besar itu. “Tadi kau bilang aku yang memegang kuncinya, menyiratkan bahwa aku mampu membuka pintu mana pun di sini.”

“Benar, Kamu memang punya kunci, Tuan. Tapi menggunakannya di pintu itu akan menjadi kesalahan besar,” kepala pelayan tanpa kepala itu memperingatkan, nadanya dipenuhi kecemasan yang nyata. Meskipun dibatasi oleh perannya—dan mungkin oleh aturan yang tak bisa ia ungkapkan—ia membuat gerakan yang semakin panik dan menggunakan bahasa yang lebih mendesak untuk mencegah Duncan. “Demi semua orang di rumah ini, aku mohon Kamu untuk tidak membuka kunci pintu itu.”

“Apa sebenarnya yang ada di balik pintu itu?” Duncan menatap tajam ke arah kepala pelayan, suaranya dipenuhi keseriusan yang mendalam.

Kepala pelayan itu tampak ragu sejenak, tergagap seolah-olah sedang berusaha menyusun pikirannya menjadi ucapan yang koheren. “Di balik pintu itu… di balik pintu itu,” ia ragu-ragu, “terbentang dunia yang hancur. Kiamat sudah dekat, dan pintu itu berfungsi sebagai segel yang menahan akhir zaman. Kumohon, jangan buka segel ambang pintu itu dan lepaskan kiamat itu atas kami.”

Alis Duncan berkerut dalam saat ia menyerap penjelasan kepala pelayan tanpa kepala yang panik dan terpotong-potong. Kata-kata “dunia yang hancur” dan “kiamat yang akan segera terjadi” bergema meresahkan di benaknya. Mungkinkah rumah besar itu bukan sekadar tempat tinggal yang penuh teka-teki, melainkan benteng melawan bencana yang mengancam?

Setelah beberapa saat merenung dengan intens, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya, seolah melepaskan beban informasi meresahkan yang baru saja diterimanya. “Jangan khawatir,” akhirnya ia berkata, mengangguk meyakinkan ke arah pelayan tanpa kepala itu. “Aku sama sekali tidak berniat membuka pintu yang mengancam itu.”

Kelegaan yang menyelimuti sang kepala pelayan hampir terasa nyata. Meskipun tidak ada kepala atau wajah untuk mengekspresikan emosi, pelepasan ketegangan yang tiba-tiba pada posturnya begitu jelas.

“Kata-katamu tadi sangat meresahkanku,” aku sang kepala pelayan, nadanya kembali tenang saat ia melanjutkan langkahnya. “Aku mendesakmu untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan seperti itu di masa mendatang. Kiamat telah menggerogoti sebagian besar dunia, dan rumah besar ini adalah tempat perlindungan terakhir.”

Duncan tetap diam, mengamati dengan saksama sikap kepala pelayan saat mereka berjalan menyusuri koridor sempit itu. Akhirnya, mereka sampai di sebuah pintu kaca berbingkai baja gelap yang kokoh. Rangka baja itu membagi kaca bening itu menjadi berbagai bentuk geometris, masing-masing dipenuhi ukiran bunga dan tanaman. Keseluruhan estetikanya terasa aneh sekaligus meresahkan, seolah-olah dunia dongeng telah bertabrakan dengan dunia yang lebih gelap dan lebih menyeramkan.

“Nyonya sudah menunggu Kamu di taman. Silakan duduk dengan nyaman,” kata kepala pelayan, memutar gagang pintu dan mundur selangkah.

“Kau tidak ikut denganku?” tanya Duncan, tampak terkejut.

“Taman ini adalah ruang pribadi yang disediakan untuk nyonya rumah dan mereka yang memegang kunci. Bahkan tukang kebun pun hanya masuk jika benar-benar diperlukan,” jelas kepala pelayan itu. “Jika Kamu butuh bantuan, tersedia tali tipis di dekat pintu masuk. Tarik talinya, dan aku akan segera datang ke gerbang.”

“Terima kasih telah membawaku ke sini,” jawab Duncan sambil mengalihkan perhatiannya dari kehadiran kepala pelayan yang meresahkan.

Dengan dorongan lembut, dia membuka pintu kaca yang berderit, melewati ambang pintu menuju taman terpencil.

Perubahan suasana yang tiba-tiba itu sungguh menakjubkan. Saat pintu tertutup di belakangnya, matanya bermandikan sinar matahari yang cemerlang—sangat kontras dengan interior rumah besar yang suram dan penuh teka-teki.

Sinar matahari. Sinar matahari yang sesungguhnya, yang meneguhkan kehidupan.

Duncan tersadar bahwa, di dalam jantung rumah besar yang menyeramkan dan berliku-liku ini, terdapat tempat perlindungan yang dipenuhi kehangatan dan cahaya matahari.

Rasa takjub Duncan membumbung tinggi saat ia menyelami taman lebih dalam. Matanya menjelajahi pemandangan rimbun di hadapannya, mengamati hamparan bunga yang dirancang rumit dan penuh warna, semak-semak yang dipahat sempurna, dan jalan setapak berkelok-kelok yang diapit rerumputan hijau yang semarak. Taman itu seakan bermandikan kehangatan halus yang memenuhi udara, memancarkan kilau surealis pada setiap daun dan kelopaknya.

Namun, saat ia mendongakkan kepala ke langit, rasa kagum awalnya mulai memudar, digantikan oleh rasa tidak nyaman yang mengganggu. Apa yang ia lihat jauh dari langit biasa yang biasa dilihat orang di luar ruangan. Sebaliknya, ia dihadapkan pada interpretasi artistik yang mencekam, hampir kekanak-kanakan dalam pelaksanaannya. Bercak-bercak biru, diselingi awan putih kasar bagai kapas dan sinar keemasan yang sederhana, membentuk langit yang fantastis. Bagian tengahnya didominasi oleh coretan matahari yang sama amatirnya, memancarkan garis-garis cahaya keemasan. Dari “matahari” inilah taman mendapatkan cahaya dunia lain.

Meskipun pemandangan di atas sana begitu memesona, Duncan merasakan kegelisahan yang mendalam menggerogotinya. Ini bukan sekadar langit yang aneh; melainkan pertanda keanehan yang mendasari taman itu. Sambil menepis rasa ngeri, ia mengalihkan pandangannya dari langit yang aneh itu dan kembali memperhatikan aspek-aspek duniawi taman itu.

Tak lama kemudian, matanya menangkap percikan warna aneh yang tampak janggal di antara pepohonan hijau dan bunga-bunga. Didorong oleh rasa ingin tahu sekaligus kekhawatiran, ia bergerak cepat menuju sumbernya, menerobos semak-semak lebat dan menyusuri dinding mungil yang dihiasi rangkaian bunga.

Sesampainya di area pertemuan beberapa jalur setapak, ia mendapati dirinya berada di sebuah lahan terbuka terpencil di jantung taman. Suasana di sini terasa sangat berbeda—sunyi dan khidmat. Mendominasi lahan terbuka itu adalah sesosok yang duduk dengan tenang, seolah-olah tengah bermeditasi mendalam atau mungkin tertidur lelap.

Sosok ini bersandar pada pilar marmer megah, yang juga ditumbuhi tanaman ivy dan sulur-sulur berbunga. Namun, ketika Duncan mendekat, ia menyadari bahwa citra romantis sulur-sulur berbunga itu dirusak oleh detail yang meresahkan—banyak duri hitam tajam menghiasi sulur-sulur itu, melilit sosok itu dengan mengancam, seolah-olah menjeratnya dalam jerat vegetatif.

Napas Duncan tercekat sejenak saat ia mencerna dikotomi tontonan yang indah namun memenjarakan itu. Sosok itu, anggun sekaligus rapuh dalam ketenangannya yang kusut, menarik tatapannya tanpa bisa ditahan.

“Alice?” akhirnya ia berhasil mengucapkannya, kata itu hanya bisikan, sarat dengan campuran kekhawatiran, kebingungan, dan antisipasi.

Prev All Chapter Next