Deep Sea Embers

Chapter 481: Deeper into the Deep Sea

- 8 min read - 1591 words -
Enable Dark Mode!

Tiba-tiba, Duncan merasakan sensasi yang intens dan mengejutkan, yang ia kenali agak mirip dengan momen “proyeksi astral” yang pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya seolah kesadarannya terpecah-pecah, dan sebuah wujud baru lahir—hampir seolah ia memiliki tubuh kedua yang dapat berinteraksi dengan dunia. Namun, pengalaman ini unik dengan caranya sendiri.

Dari perspektif entitas yang baru terbentuk, Duncan mendapati dirinya berada di lingkungan yang asing dan meresahkan. Berkas cahaya menembus kegelapan, tak menentu dan tak stabil, menyerupai interferensi statis yang biasa Kamu lihat di layar televisi kuno. Lingkungan itu cair dan selalu berubah, menampilkan pola cahaya dan bayangan yang beriak. Ia seolah berada di dunia kuno yang gelap, dihuni oleh banyak sosok humanoid yang mengambang. Di saat yang sama, perhatiannya secara misterius tertarik pada sebuah kapal selam yang miring aneh, yang mengapung di atas sesuatu yang tampak seperti pulau bawah laut. Cahaya lembut kapal selam yang menerangi menembus air keruh, menciptakan lingkaran cahaya.

Di luar jangkauan sorotan lampu kapal selam yang terbatas, Duncan masih dapat melihat bentuk-bentuk redup dan kerlipan cahaya, yang memungkinkannya mengamati lingkungan dari sudut yang sama sekali baru dan asing.

Melalui jendela kaca kapal selam, ia melihat entitas barunya mengambang di kegelapan laut dalam. Anehnya, ia mengangkat sesuatu yang bisa digambarkan sebagai anggota tubuh untuk menyentuh wajahnya sendiri, yang tidak memiliki ciri khas apa pun. Duncan tidak bisa merasakan sensasi mata karena bentuk baru ini tidak memiliki mata, juga tidak memiliki tangan atau kaki dalam pengertian konvensional. Tekstur kasar yang tidak biasa terasa ketika ujung anggota tubuhnya menyentuh wajah.

Didorong oleh firasat yang tak terduga, Duncan mengarahkan wujud baru ini untuk menekan wajahnya yang tanpa fitur. Secara ajaib, wajah itu mulai berubah. Permukaannya yang gelap dan halus mulai beriak, dan dalam sekejap, dua mata muncul. Persepsi dan pengalamannya langsung menjadi lebih intens.

Masih beradaptasi dengan kendali wujud baru yang belum sempurna ini, Duncan mulai bergerak hati-hati menuju kapal selam. Matanya yang baru terbentuk mengamati bagian dalam kapal selam dan memantulkan wujudnya sendiri di kaca. Pengalaman itu menggembirakan sekaligus menegangkan.

Tiba-tiba, Agatha tersentak melihat sosok misterius di luar kabin kapal selam. Ia berbalik dan mendapati Duncan, masih dalam wujud aslinya, berdiri di panel kendali. “Kau benar-benar mengejutkanku,” katanya.

“Orang-orang cenderung bereaksi seperti itu di dekatku,” jawab Duncan dengan tenang, matanya masih terfokus pada panel kendali kapal selam. “Sebaiknya kau membiasakan diri.”

Indra perasa Agatha menajam. Ia melirik gugup antara Duncan dan sosok yang mengambang di luar. Ia tak bisa menghilangkan pikiran bahwa Kapten Duncan memang biasa menimbulkan rasa takut, bahkan di tempat yang tak biasa seperti lautan.

Meskipun takut, ia tak bisa mengungkapkan kekhawatirannya. Ia malah mengalihkan pembicaraan, bertanya, “Jadi, apa langkahmu selanjutnya?”

“Setelah beradaptasi dengan bentuk baru sementara yang mampu mengarungi perairan gelap ini, tujuanku adalah menjelajahi jalur di depan,” ujar Duncan santai. Jari-jarinya menari-nari di atas panel kontrol, menyesuaikan pengaturan dan tuas. Mesin kapal selam mengeluarkan suara geraman yang tegang sebagai respons. “Kita juga perlu sedikit naik. Kapal ini tidak dirancang untuk bertahan di kedalaman ekstrem ini terlalu lama.”

Saat air dikeluarkan dari ruang dekompresi, kapal selam mulai naik perlahan ke permukaan. Namun, Agatha tampak terpesona, matanya terpaku pada jendela kapal. Ia menyaksikan wujud sekunder Duncan, sosok humanoid, perlahan menghilang ke dalam jurang lautan.

Tak lama kemudian, kegelapan maha dahsyat di laut dalam menelan cahaya sekecil apa pun dari kapal selam yang sedang naik. Namun, Duncan tidak dibiarkan buta. Ia memancarkan api lembut nan halus ke air di sekitarnya, memanfaatkan sumber cahaya yang minim ini bersama indra-indra khusus tubuhnya untuk bernavigasi. Jalannya terhalang oleh sosok-sosok humanoid yang melayang di air es, tampak tak bernyawa dan membeku di tempat.

Meskipun Duncan berusaha keras menghindari entitas-entitas misterius yang melayang ini, ia tak bisa sepenuhnya menghindarinya. Setiap kali ia berenang melewatinya, pikiran-pikiran yang meresahkan menghantuinya. Seolah-olah sosok-sosok yang tertidur ini, dengan mata mereka yang tak terhitung jumlahnya dan jiwa-jiwa yang tak berdaya, hampir terbangun. Rasanya mereka sedang mengamatinya, bahkan mungkin siap untuk mengulurkan tangan dan menyentuhnya kapan saja. Namun, pada akhirnya, mereka tetap statis, seperti boneka kosong yang terbuat dari lumpur laut, tanpa kehidupan dan gerakan.

Menjelajahi pemandangan yang mencekam ini, Duncan tiba di sebuah tebing di tepi yang dikenal sebagai “Pulau Terapung Bawah Air”. Ia berhenti sejenak, mengamati bentang alam bawah laut yang terbentang di depannya.

Menurut laporan, daerah ini berhubungan dengan pesisir tenggara “Frost”. Di atas permukaan air, garis pantai ini merupakan rumah bagi pelabuhan, gudang, kantor bea cukai, dan sebuah gereja kecil yang menawan di atas tebing, dibingkai oleh pepohonan hijau bahkan di tengah musim dingin. Namun, di bawah ombak, pemandangannya sama sekali berbeda: hanya tebing-tebing yang suram dan bergerigi, dengan rona gelapnya yang menghantui, mengingatkan pada patung-patung primitif tanpa hiasan apa pun.

Duncan kemudian mengalihkan pandangannya ke jantung pulau bawah laut. Di tengah cahaya redup dan bayangan yang merayap, ia nyaris tak bisa melihat sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi. Bangunan itu tampak seperti puncak gunung yang tenggelam atau mungkin pilar raksasa yang seolah-olah menusuk pulau itu sendiri.

Tiba-tiba, pikiran Duncan kembali pada gambaran yang Martha gambarkan dalam salah satu komunikasi mereka sebelumnya. Ia bercerita tentang pikiran-pikiran yang tak terhitung jumlahnya yang tenggelam di lautan, masing-masing menangkap sekilas jurang gelap sebelum lenyap. Ketakutan kolektif mereka telah membekas pada sebuah penglihatan yang berulang—sebuah pilar raksasa yang menembus entitas luas jauh di dalam laut.

Setelah merenung, Duncan menyadari entitas raksasa yang kini ia amati tampak sangat mirip dengan “Cetak Biru Asli” Frost yang digambarkan Martha. Lalu, bagaimana dengan pilar yang menjulang tinggi itu? Apakah itu manifestasi dari Nether Lord, yang sedang menyerbu dunia nyata? Atau mungkinkah itu sesuatu yang lain, mungkin sesuatu yang dikabarkan sebagai ciptaan palsu?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu besar, memenuhi Duncan dengan campuran rasa takut dan antisipasi saat ia merenungkan langkah selanjutnya di dunia bawah laut yang asing ini.

Duncan menghentikan langkahnya, menatap “pilar” jauh yang memanggilnya dari kejauhan dengan penuh pertimbangan. Setelah hanya berjalan sebentar, ia merasa putus asa. Perjalanan bawah laut di depannya sungguh menegangkan, membentang melintasi daratan yang kiranya akan menjadi separuh negara-kota.

Jarak bawah air terasa menipu, terutama saat melintasi medan sekeras laut dalam. Meskipun wujudnya saat ini tampak kebal terhadap tekanan luar biasa yang dapat menghancurkan manusia biasa, ia menyadari bahwa menempuh jarak sejauh itu akan menjadi pekerjaan yang melelahkan dan membosankan.

Saat ia merenung, sebuah ide mulai terbentuk di benaknya. Dengan ragu-ragu, Duncan perlahan mengangkat tangannya dan melambaikannya di air. Api hijau redup mengikuti gerakan tangannya, dengan cepat berubah menjadi pusaran yang berputar-putar—sebuah portal. Hampir seketika, seekor burung kerangka, diselimuti api yang menderu, keluar dari portal dan berputar di sekelilingnya. Ai memekik dengan suara melengking, “Siapa yang memanggil armada! Transmisi berhasil! Transmisi berhasil! Buka pintunya, kiriman telah tiba!”

Duncan benar-benar terkejut.

Ai, mengepakkan sayapnya yang berapi-api di sampingnya, bergerak menembus miliaran ton tekanan samudra seolah melayang bebas di angkasa. Suaranya, perpaduan nada yang tajam dan disonan, mengoceh tanpa henti, cukup menusuk hingga menembus kesadaran seseorang.

Sungguh menakjubkan—lingkungan dengan tekanan ekstrem dan kegelapan ini tampaknya tidak memberikan efek buruk apa pun pada Ai.

Awalnya, Duncan hanya berharap untuk menguji apakah kemampuan unik Ai, yaitu “teleportasi”, dapat berguna dalam ekspedisi bawah laut ini. Ia siap untuk memindahkan Ai kembali ke kapal selam jika ia tidak mampu beradaptasi. Namun, performanya tidak hanya melampaui standar, tetapi juga melampaui ekspektasinya.

Duncan tercengang menyaksikan Ai berputar-putar di sekelilingnya, tak terpengaruh oleh air, seolah-olah itu hanyalah ilusi. Setelah beberapa saat terkagum, ia mengulurkan tangannya dan burung itu dengan patuh hinggap di atasnya. Ai memiringkan kepalanya, menatapnya dengan heran. “Ada apa, ada apa, ada apa?”

Duncan membuka ‘mulutnya’, lalu menyadari wujudnya saat ini sebenarnya tidak memiliki mulut. Kalaupun ada, ia tidak yakin bagaimana komunikasi verbal akan berjalan di alam bawah laut ini. Memilih alternatif, ia memfokuskan pikirannya dengan saksama, berusaha menyampaikan pertanyaan-pertanyaannya secara mental kepada roh burung itu.

“Kita sekarang berada di bawah air. Apakah kamu merasakan sesuatu yang aneh?”

Menatap mata Ai, Duncan mencari tanda-tanda bahwa Ai memahaminya. Kepala Ai sedikit miring, sebuah gestur yang biasanya menunjukkan rasa ingin tahu atau perenungan. Dengan napas tertahan, Duncan menunggu tanggapan Ai, berharap sinergi baru mereka dapat mengungkap lebih banyak rahasia jurang yang terbentang di hadapan mereka.

“GG, kau juga berselancar!” Suara burung itu bergema dengan antusiasme yang tiba-tiba meledak, membuatnya mengepakkan sayapnya dengan penuh semangat. Saat Ai melakukannya, percikan api hijau halus memancar dari wujud kerangkanya, menerangi sekeliling mereka dengan cahaya yang menakutkan. “Skywing 3G, cepat sekali, Skywing 3G, terlalu cepat!”

Tatapan Duncan berubah sendu saat ia mencerna seruan Ai yang bersemangat. Ia mendapati dirinya tenggelam dalam pikirannya, merenungkan implikasi dari apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Waktu terasa melambat saat ia merenung, begitu asyiknya ia sehingga ia tidak segera menanggapi burung roh itu.

Menyadari ketidakpeduliannya, Ai pun mulai tenang dan tidak terlalu panik. Ia dengan penasaran mengecup lengan pria itu sebelum bertanya, “Tidak ada balasan dari aplikasi?”

Pertanyaan ini bagaikan tombol reset mental bagi Duncan, menariknya kembali dari kedalaman perenungannya dan memfokuskan kembali perhatiannya pada hal-hal mendesak yang menantinya. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, dan setiap momen terasa berharga dalam lingkungan yang tak terduga ini.

Ia mengangkat kepalanya, tatapannya menembus hamparan kelam menuju kegelapan misterius di baliknya. Sebuah tekad baru memenuhi dirinya, dan ia memusatkan perhatiannya ke dalam, dalam hati merumuskan instruksinya kepada Ai.

“Bawa aku ke tempat itu,” pikirnya, sambil memproyeksikan sejelas mungkin.

“Perintah diterima! Perintah diterima!” Respons Ai datang cepat, suaranya diwarnai kegembiraan yang biasa. Sayapnya mengepak lebih enerjik dari sebelumnya, menyemburkan api yang berputar-putar di sekelilingnya dalam pusaran yang berkobar. “Misi akan tercapai!”

Mendengar penegasan Ai yang meyakinkan, Duncan tak kuasa menahan perasaan campur aduk antara antisipasi dan kegelisahan. Dengan Ai di sisinya, mereka akan menyelami hal yang tak diketahui, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan secercah kegembiraan bercampur ketegangan ketidakpastian.

Prev All Chapter Next