Deep Sea Embers

Chapter 433: Incineration

- 9 min read - 1733 words -
Enable Dark Mode!

Di momen penting yang tak terlupakan ini, Kota Frost mengalami transformasi surealis. Kota itu tampak melayang di atas lautan, seolah melayang tanpa tujuan di atas cermin raksasa. Namun, ini bukan kota biasa. Arsitektur dan cakrawalanya dipenuhi pantulan aneh, terbalik, dan terdistorsi. Bangunan-bangunan bercermin ini menawarkan panorama yang menghantui dan memantulkan pemandangan yang bahkan lebih menakutkan: sepasang mata bercahaya yang tampak berkobar dan kekuatan luar biasa besar yang tak hanya membayangi kota, tetapi juga sangat kontras dengan luasnya Frost itu sendiri.

Hampir seketika, kekuatan elemen api terpanggil, membakar pantulan pemandangan kota dan bayangan aslinya. Api yang berkobar saling berjalin membentuk jaringan saluran energi, yang mengintensifkan panas, memperkuat kekuatannya ke tingkat yang baru.

Di tengah tontonan yang kacau ini, teriakan melengking tiba-tiba membelah atmosfer. “Komandan! Komandan! Tembak… Tembak!” Suara seorang perwira muda bergetar hebat karena ketakutan. Peringatan darurat itu menyadarkan Komandan Lister dari lamunannya. Ia segera melirik ke luar jendela pos komando dan melihat pemandangan mengerikan di sepanjang garis pantai: laut berkobar, dan api membumbung tinggi ke langit. Warna hijau pucat yang meresahkan mulai memancar dari api, mengalir deras seperti air terjun dan dengan cepat memenuhi seluruh pandangannya.

Api yang mengerikan itu berputar-putar liar ke segala arah, memancarkan kekuatan yang begitu mengintimidasi hingga seolah menembus hingga ke lubuk jiwa seseorang. Komandan Lister tanpa sadar mundur selangkah. Seketika, pandangannya beralih ke lampu gas yang tergantung di dinding di dekatnya. Apinya yang biasanya tidak berbahaya kini memancarkan semburat warna hijau yang sama meresahkannya.

Di kejauhan, suara gemuruh yang dalam bergema, mengguncang seluruh kota. Suara ini disertai dengan suara keras dan melengking, seolah-olah sesuatu yang sangat besar sedang dicabik-cabik. Raungan yang kuat dan memekakkan telinga bergema di seluruh pusat komando, membuat semua orang tuli sementara karena intensitasnya yang dahsyat.

Seorang penonton yang menyaksikan peristiwa yang berlangsung menuju negara-kota itu melihat bahwa bangunan-bangunan yang terdistorsi dan bercermin, yang seolah menyelimuti kota, kini runtuh, pecah berkeping-keping. Dari celah-celah yang pecah ini, api yang lebih besar meletus. Terlalap api hijau yang berkobar itu adalah bongkahan-bongkahan material hitam yang tak terhitung jumlahnya, yang secara sistematis terbakar dan musnah.

Di dekat zona pertahanan pelabuhan kota, seorang prajurit meringkuk di balik tempat perlindungan yang lapuk. Matanya terbelalak ngeri saat melihat bangunan-bangunan bengkok di kejauhan retak, melepaskan ratusan makhluk mengerikan yang cacat. Saat makhluk-makhluk ini berlari menjauh dari api, mereka hancur menjadi abu hitam.

Di pusat kota, di kaki gunung, pasukan pertahanan terkunci dalam pertempuran sengit melawan invasi doppelgänger mengerikan. Tiba-tiba, sebuah pasukan muncul dari berkas cahaya dan bayangan yang terdistorsi. Para prajurit ini mengenakan seragam yang mengingatkan pada Pengawal Ratu dari setengah abad yang lalu. Mereka membanjiri jalan-jalan kota, meneriakkan nama Ratu Es, bertempur dengan gagah berani melawan para penyerbu mengerikan yang seolah-olah merobek tatanan realitas itu sendiri.

Di garis pertahanan terakhir di depan Katedral Sunyi, seorang pendeta senior menggalang rekan-rekan pendetanya untuk bertahan melawan serangan makhluk-makhluk mengerikan yang membanjiri alun-alun. Kereta uap yang dioperasikan para pembela menembakkan api bertekanan, sementara para pendeta kematian menciptakan api yang halus dan seperti hantu. Bersama-sama, kedua bentuk api ini terjalin menjadi penghalang pertahanan yang rapuh, nyaris tak mampu menahan gelombang mengerikan makhluk-makhluk mengerikan dan lumpur beracun mereka yang berlumuran darah.

“Tahan mereka!” raung pendeta senior, suaranya dipenuhi ketegangan dan hampir pecah. Dari sudut matanya, ia melihat fenomena yang mengerikan: abu halus dan pucat mulai turun dari ketinggian Katedral Sunyi. Abu-abu ini melayang dengan anggun, seolah-olah merupakan kepingan salju pertama di musim dingin. “Barikade pintu katedral! Barikade—”

Arahannya tiba-tiba terhenti oleh raungan memekakkan telinga disertai getaran seismik yang begitu dahsyat hingga seakan mampu membelah gunung. Pendeta senior itu terhuyung, hampir kehilangan keseimbangan akibat kekuatan guncangan yang mengguncang. Tiba-tiba, sebuah proyeksi seperti duri yang terbuat dari lumpur menerjang ke arahnya, auranya memancarkan ancaman mematikan. Proyeksi itu menembus pertahanan mereka yang rapuh dan langsung mengarah padanya.

Tepat saat dia hendak ditusuk, api hijau misterius muncul entah dari mana, membakar duri yang terbuat dari lumpur dan mengubahnya menjadi tumpukan abu tak bernyawa.

Masih terguncang akibat nyaris celaka, pendeta itu mendongak dan melihat sesosok tubuh perlahan muncul di hadapannya. Ia mengenakan jubah hitam compang-camping, mengingatkan pada pakaian para pertapa. Retakan-retakan mengotori tubuhnya, masing-masing berfungsi sebagai saluran bagi aliran api, seolah-olah ia adalah saluran hidup bagi aliran lava cair atau darah yang tak henti-hentinya.

“Penjaga Gerbang Agatha…?” ia tergagap, wajahnya bagaikan kanvas emosi yang campur aduk—kaget dan sadar berebut dominasi. Sosok di hadapannya tampak dikenal sekaligus tak dikenal. Saat ia menyebut namanya, lebih banyak sosok mulai muncul di sekelilingnya, semuanya diselimuti api hijau mistis yang sama.

“Aku sudah kembali,” seru Agatha, mengalihkan pandangan kosongnya ke arahnya. Mata itu diterangi oleh percikan api pijar kembar. “Mundurlah bersama para penyintas atau carilah tempat aman untuk bertahan.”

“Bersikap tegas?” Pendeta senior itu tampak bingung, wajahnya menunjukkan ketidakpahaman saat ia mencoba mencerna kata-katanya. “Dan kenapa kau… kenapa kau berubah?”

Agatha tidak menjawab. Ia malah mengalihkan pandangannya ke laut yang terbentang di luar batas kota. Asap tebal yang menyesakkan membubung dari permukaan laut, dan langit diselimuti awan-awan rendah yang mengancam. Laut itu sendiri seolah mencerminkan kegelapan yang semakin pekat, permukaannya berubah menjadi jurang hitam pekat. Dari kedalaman tak berdasar ini muncullah entitas mengerikan yang tak terlukiskan, perlahan-lahan mulai naik.

Dua bola cahaya hijau bercahaya raksasa, bersinar bagai dua benda langit kembar, mulai muncul di antara gumpalan asap tebal dan awan yang mengancam. Sebuah bentuk yang tak terpahami manusia mulai terwujud di lingkungan yang keruh ini; seolah-olah laut dan atmosfer bersekongkol untuk melahirkan monster yang tak terbayangkan. Pemandangan itu begitu memukau sehingga bahkan Agatha, yang telah lama tak bernapas, merasakan sensasi baru yang mirip tercekik—sesak napas yang seakan menyasar jiwanya.

“Dewa Kematian…” Tertekan oleh tekanan atmosfer yang hampir terasa, sang pendeta agung terhuyung sekali lagi, berjuang untuk tetap tegak. “Apa-apaan ini?!”

Agatha sedikit memiringkan kepalanya, suaranya dipenuhi kepasrahan yang muram. “Sudah kubilang. Cari tempat yang aman untuk berdiri.”

Bingung, sang imam besar hampir tak mampu memahami apa yang disiratkan Agatha. Namun, ketika sosok raksasa yang muncul di awan mulai mengambil wujud yang lebih jelas, ia mulai memahami kengeriannya.

Yang muncul dari hamparan samudra yang seakan tak berbatas adalah sosok dengan skala tak terbayangkan, seolah lahir dari esensi samudra itu sendiri. Bola api hijau kembar yang terbenam di dalam awan gelap itu adalah matanya. Pusaran awan yang bergolak dan berputar-putar itu terasa seperti napasnya. Siluet besar dan gelap yang muncul di antara asap itu, sungguh tak terbayangkan, adalah lengannya.

Dan lengan itu kini terulur ke arah kota Frost.

“Tuhan!!!” Teriakan putus asa yang menusuk telinga memecah suasana hening di alun-alun kota.

Namun, meskipun tampak bergerak dengan kecepatan santai, lengan itu melampaui teriakan atau doa apa pun. Ia meluncur di atas lautan dengan kemudahan yang mencengangkan, melewati armada Kabut Laut, melewati kapal-kapal Angkatan Laut Frost yang sedang bertempur, dan menghindari armada monster. Ia melintasi pertahanan pesisir kota dan, dengan kehalusan tangan yang dengan hati-hati menyelidiki tabir kabut, menembus jantung kota Frost itu sendiri.

Pada detak jantung berikutnya, lengan itu mulai naik perlahan dan hati-hati. Ia tampak mengangkat beban yang tak terbayangkan skalanya, naik semakin tinggi ke angkasa.

Saat ia naik, bayangan cermin kota mulai terlepas dari Frost yang sebenarnya. Setiap gedung pencakar langit yang terdistorsi, setiap lanskap yang melengkung dan membengkak, pegunungan yang tertutup duri yang mengancam, dan semua entitas menjijikkan yang secara menyeramkan meniru tetapi secara mengerikan menyimpang dari dunia nyata—semua ini diekstraksi dari Frost fisik oleh cengkeraman tangan raksasa yang tak tertahankan.

Versi cermin Frost ini, yang dulunya terjalin erat dengan realitas kota, kini menggantung di ketinggian yang tak pernah dibayangkan oleh para penciptanya. Dan ia masih terus menjulang, dibawa oleh tangan raksasa itu ke ketinggian yang tak terduga.

Tawa riang yang dalam dan penuh kegembiraan meluap dari bibir Agatha, bergema di udara bagai melodi yang tak terduga. Versi cermin Frost, yang telah sepenuhnya terlepas dari dunia fisik negara-kota, melanjutkan pendakiannya yang surealis. Adegan itu mengingatkan pada ritual pengusiran setan yang rumit, di mana sebuah lengan raksasa dengan lembut mengangkat roh jahat itu menuju lapisan awan tebal yang menjulang di atas.

Tersembunyi jauh di dalam awan-awan itu, bola-bola cahaya hijau kembar—yang menyala bagai dua matahari mini—berkedip-kedip samar. Sebuah wajah yang membangkitkan rasa kagum sekaligus ngeri, yang hanya samar-samar terlihat, tampak mengintip dari langit.

Keriuhan suara samar dan tak jelas datang dari telapak tangan raksasa yang menggenggam Mirror Frost. Bercampur dalam simfoni ini bukan hanya suara fisik, tetapi juga gema emosional kota: jeritan tersiksa yang terbungkus dalam bangunan-bangunannya yang bengkok, delusi dan kesalahpahaman yang telah lama menjangkiti penduduknya.

Duncan, mengamati pemandangan dari atas, melihat kota yang dicerminkan itu sebagai gumpalan daging yang cacat di dalam telapak tangannya yang besar. Jalanan, yang dulunya merupakan tiruan murahan dari dunia nyata, kini berubah menjadi kekacauan yang suram dan berlumpur. Di tengah jalanan yang berliku-liku dan lanskap yang mengerikan ini, duri-duri kecil berkedut, dan percikan api yang hampir tak terlihat berkelap-kelip tak menentu. Ratusan penganut fanatik, terperangkap dalam jaring keyakinan mereka sendiri yang tak berdasar, berdengung seperti lalat yang terperangkap. Suara kolektif itu merupakan campuran yang meresahkan antara ketakutan, amarah, keengganan, dan kedengkian murni.

Apakah para fanatik sesat ini masih berpegang teguh pada narasi apokaliptik mereka? Atau apakah mereka akhirnya mulai mencari penjelasan rasional atas kengerian yang secara tidak sengaja mereka timbulkan di dunia?

Duncan mengalihkan pandangannya ke bawah setelah berhenti sejenak untuk mendengarkan simfoni kota yang putus asa. “Kau kurang memahami pengorbanan berskala besar,” serunya dengan nada serius dan serius.

Di bawah tatapannya yang tajam, kota yang terpantul di cermin, yang berada di telapak tangannya yang besar, terbakar secara spontan. Abu dan api hijau pucat turun dari langit bagai hujan deras, hujan neraka yang memancar dari lapisan awan tebal di atas.

Tyrian mengamati bencana yang sedang berlangsung. Di sampingnya berdiri Perwira Pertama Aiden, seorang pria tegap berkepala botak. Matanya menerawang ke atas, berusaha memahami sosok raksasa yang bayangannya terlalu agung untuk dipahami manusia. Getaran halus menjalar di sekujur tubuh Aiden saat ia merenungkan pemandangan itu.

“Menurutmu?” tanya Tyrian, menoleh ke arah perwira pertamanya. Senyumnya merupakan perpaduan emosi yang misterius, sulit dipahami, dan rumit.

Aiden meraba-raba dengan canggung, menarik pipa dari saku dadanya. Tangannya gemetar tak terkendali sehingga menyalakan pipa menjadi tantangan yang tak tertahankan. Akhirnya, setelah beberapa kali gagal, ia menurunkan pipa yang belum dinyalakan itu. “Kapten tua itu… dia tidak akan mempermasalahkan kita karena menentangnya, kan?” Suaranya gemetar, diwarnai ketidakpastian.

Tyrian menanggapi dengan tawa kecil yang nyaris acuh tak acuh sambil mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. “Ayah tidak akan pernah membuang-buang waktu untuk urusan sepele seperti itu,” ujarnya. Namun, bahkan pria yang biasanya tabah dan tenang ini berjuang mati-matian, tetapi gagal menyalakan api, seolah-olah dunia sendiri menolak mereka, bahkan kenyamanan-kenyamanan kecil ini.

Prev All Chapter Next