Agatha mendapati dirinya berdiri sendirian di alam yang seolah menentang tatanan realitas, sebuah dimensi yang tak terpahami. Latar belakang halus di hadapannya mengingatkan pada dunia yang tak tersentuh waktu atau campur tangan manusia, sekaligus menakutkan sekaligus memesona.
Saat pandangannya beralih dari lentera yang tergantung di sampingnya, cahayanya yang dulu cemerlang kini hanya kedipan, melankolis mendalam mencengkeramnya. Ia tak sanggup lagi menghadapi Gubernur Winston. Berpaling darinya, ia meninggalkannya di tengah latar belakang yang tenang namun dingin dan melangkah lebih jauh ke dalam lanskap, yang didominasi oleh jalinan “cabang” yang luas. Cabang-cabang ini seolah membentang tanpa akhir, menciptakan pola rumit yang mengingatkan pada kubah kosmik.
Di pinggangnya tergantung sebuah lentera, yang dulu bersinar terang namun kini redup. Tongkat kesayangannya tergenggam erat di tangan kanannya, teman setia dalam berbagai petualangan masa lalu. Sementara itu, tangan kirinya menggenggam erat sebuah kunci kuningan, kenang-kenangan berharga yang ia terima dari Winston. Rasa dingin logamnya yang sebelumnya terasa kini tergantikan oleh kehangatan yang menenangkan, menunjukkan ikatan yang terjalin antara dirinya dan kunci itu.
Tetapi transformasi yang terjadi dalam diri Agatha tidak lagi menjadi perhatian utamanya.
Kebutuhannya yang mendesak adalah melintasi bayang-bayang yang menyelimuti dan menjelajahi dunia yang berbahaya. Ia merasa harus terus bergerak selama ia tidak sepenuhnya tertelan oleh lingkungan kacau di sekitarnya.
Agatha berusaha keras mencari pijakan kokoh di tengah kehampaan, dan setiap kali ia melangkah, sebuah jalan setapak akan muncul dari kegelapan. Ia bertekad menemukan jalan keluar melalui labirin ranting-ranting berduri yang rapat ini. Sesekali, muncul celah di antara ranting-ranting, mengisyaratkan kemungkinan jalan menuju kebebasan.
Namun, “duri-duri” itu mengancam. Duri-duri itu dengan mudah menembus pakaian Agatha, menyebabkan pakaiannya yang dulu kokoh menjadi rapuh bagai kepulan asap yang lenyap ditelan udara – sisa-sisa pakaiannya yang terlepas berubah menjadi tetesan-tetesan gelap yang mengalir, menyatu mulus dengan jalan setapak di bawahnya. Sesekali, ia tak sengaja menyentuh percikan-percikan halus yang tersebar di antara duri-duri itu. Setiap sentuhan memungkinkannya untuk merasakan kehadiran kesadaran eksternal yang nyata.
Percikan-percikan sekilas ini adalah pikiran dewa kuno yang menguasai alam ini, bisikan-bisikan misterius dari entitas yang tak terpahami. Bisikan-bisikan itu tidak tampak jahat, dan tujuannya pun tidak jelas. Namun bagi manusia, secercah pikiran sekecil apa pun itu sama menyilaukannya seperti lilin di tengah kegelapan total.
Tiba-tiba, seberkas cahaya redup memancar dari kejauhan, dengan cepat menembus sulur-sulur kegelapan yang berkelok-kelok. Saat cahaya itu menyentuh sehelai rambut Agatha, pikirannya dibanjiri “pengetahuan” yang asing –
111010011001101110000110…111001111011111010100100…
Meskipun arus masuknya deras, Agatha tak mampu memahami pesan yang ingin disampaikan oleh percikan-percikan halus ini. Ia teringat peringatan Winston: menyelami pikiran sang dewa bukan hanya sia-sia, tetapi juga berbahaya. Hal itu bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kegilaan.
Saat mengangkat matanya, ia mendapati sebuah struktur monumental dari kayu mati dan duri-duri tajam. Cahaya-cahaya yang tersebar, mengingatkan pada kunang-kunang, berkelap-kelip di tengah labirin berduri. Di balik penghalang yang kokoh ini, selubung kabut mengaburkan pandangannya. Tersembunyi di dalamnya, anggota tubuh raksasa dewa yang berbayang itu bergerak halus dan mengesankan.
Udara di sekitarnya terasa dingin menusuk tulang, jauh lebih menusuk daripada dingin apa pun yang pernah dirasakan Agatha. Dingin itu bukan sekadar sensasi di kulitnya; rasanya seolah meresap ke dalam sumsum tulangnya, disertai kelembapan yang ingin mengkristalkan bagian dalam tubuhnya.
Secara naluriah, Agatha mencengkeram pakaiannya erat-erat, berusaha menahan sisa kehangatan di dalamnya. Ia ngeri ketika menyadari kain yang tadinya kokoh kini compang-camping dan robek. Jalan setapak yang penuh duri tajam yang telah dilaluinya telah merobek pakaiannya tanpa ampun, meninggalkan goresan dan luka yang lebih dalam di kulitnya yang terbuka.
Dari beberapa luka yang lebih dalam itu, suatu zat yang gelap dan kental, mengingatkan pada darah lama yang membeku, perlahan-lahan merembes keluar, menggelapkan salju di bawah kakinya.
Namun, saat keputusasaan mengancam akan menguasainya dan hawa dingin mengancam akan menguasainya, kehangatan yang tak terduga mulai memancar dari lubuk hatinya, membungkusnya dalam pelukan yang menenangkan.
…
Di dalamnya, ada api kecil, warna zamrud yang cemerlang, menyala dengan tenang, memancarkan cahaya hijau misterius pada wajah pucatnya dan menerangi labirin penuh embun beku dan lembap tempat ia berada.
Tiba-tiba, indranya yang tajam terasa tumpul, seolah kabut tebal menyelimuti pikirannya, menahan kesadarannya. Kehangatan yang dulu begitu kuat di pembuluh darahnya, rasa lelahnya, dan rasa sakit akibat luka-lukanya terasa jauh, seolah-olah semua itu milik orang lain.
Agatha perlahan mencoba memutar kepalanya, berharap pikirannya yang kabur segera jernih. Di tengah latar belakang yang berputar-putar, sebuah pemandangan aneh tertangkap oleh sudut pandangnya.
Dinding terowongan yang dulunya gelap dan kokoh kini tampak menguap, menyingkap kabut yang berputar-putar menari-nari di kehampaan. Dari dalam uap ini muncul sebuah konstruksi menyeramkan yang menyerupai dahan-dahan pohon yang saling bertautan atau semak duri yang lebat, menjulur malas ke arahnya.
Akan tetapi, secepat kemunculannya, penglihatan spektral itu lenyap, memperlihatkan terowongan yang familiar dan gerbang mengerikan yang menjulang di ujungnya.
Degup… degup…
Saat berfokus pada gerbang itu, Agatha bisa merasakan denyutan ritme yang luar biasa. Seolah-olah di balik portal itu terdapat jantung raksasa, berdebar berirama, mengirimkan riak-riak ke seluruh lingkungan obsidian.
Dari keadaan nyaris lumpuh, tekad baru muncul dalam diri Agatha. Matanya terpaku pada gerbang, tekad terpancar jelas dari tatapannya.
“Itu kamu… akhirnya aku menemukanmu…”
Sambil memegang api zamrud dengan protektif di telapak tangannya, ia dengan tegas bersandar pada tongkat kesayangannya dan melangkah maju. Setiap langkahnya semakin cepat, akhirnya menciptakan hembusan angin yang membuntutinya sementara detak jantung yang menghantuinya mengalun bagai alunan lagu duka di telinganya.
Tak lama kemudian, hiruk-pikuk suara pelan menyatu dengan detak jantung, kedengaran seperti bisikan gabungan dari jiwa-jiwa yang tak terhitung jumlahnya, yang melantunkan doa dalam pengabdian kepada dewa kuno yang misterius.
Namun Agatha tak lagi mampu menikmati kemewahan rasa ingin tahu. Tujuannya jelas, dan itu terbentang di depan. Tersembunyi di ceruk terowongan itu, tempat perlindungan bagi para bidah yang ia cari.
Suara ritmis tongkat Agatha yang menyentuh lantai dan ketukan tumitnya yang metodis bergema di lingkungan yang luas, menciptakan gema yang menghantui. Suara itu seakan memantul dan mempermainkan telinga, sehingga sulit dipastikan sumbernya.
Namun, saat Agatha mendengarkan dengan saksama, sebuah suara baru mulai muncul. Suara itu jelas terdengar dari langkah kakinya sendiri, detak jantung yang menggema dari dalam koridor, atau nyanyian teredam dari suatu pertemuan tak terlihat.
Irama langkah kaki lain yang tak terelakkan—mungkin berkelompok, mengingat hiruk-pikuk yang ditimbulkannya. Jalan mereka tampak hampir sejajar dengan jalannya, tetapi dipisahkan oleh labirin dinding rumit yang membatasi kota yang berliku-liku ini. Di sela-sela langkah kaki itu, terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga, mengingatkan pada tembakan senapan berkekuatan tinggi.
Agatha tersadar: ia mungkin bukan satu-satunya yang selamat. Apakah ada orang lain yang terjebak dalam labirin cermin yang membingungkan ini, yang jalan mereka searah dengan jalannya?
Meskipun pertanyaan-pertanyaan berputar di benaknya, pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak menghalangi langkahnya. Agatha segera berada di ambang tujuannya – portal. Portal itu berdenyut seirama dengan detak jantung tak terduga yang didengarnya, bagai suar menakutkan di tengah kegelapan. Retakan portal itu menampakkan jurang bayangan yang terasa nyata, membentang dan berputar-putar saat mulai menembus sekeliling.
Namun, pemandangan mengerikan ini tak menghalangi Agatha. Dengan napas dalam-dalam dan tekad yang kembali membuncah, ia mendorong pintu besar itu sekuat tenaga. Portal itu terbuka dengan derit memekakkan telinga, menampakkan kehampaan yang pekat, kegelapan pekat yang tak tertembus.
Di dalam kegelapan yang membakar, bayangan samar mulai terbentuk. Mereka mengisyaratkan sebuah ruangan luas tempat sambungan terbesar sistem pembuangan limbah telah diubah fungsinya secara mengerikan. Kini ruangan itu menyerupai katedral bejat yang didedikasikan untuk ritual-ritual sakral dan pemanggilan dewa-dewa kuno. Kegelapan itu tampak hidup, dipenuhi entitas-entitas tak berbentuk yang kehadirannya memancarkan energi menindas dan jahat yang menyerang indra Agatha, mengingatkan pada bau busuk yang memuakkan.
Sebelum ia sempat menyusun strategi langkah selanjutnya, sebuah desingan cepat mengiris atmosfer yang pekat, menandakan serangan yang akan segera terjadi. Dari jantung katedral yang gelap ini terdengar suara yang dipenuhi nada merendahkan dan tawa yang kelam:
“Ah, finalnya tiba. Senang sekali ‘diri bayangan’ lain telah menemukan tanah suci kita.”
Dengan suara “Krak!” yang menggema, Agatha secara naluriah mengayunkan tongkatnya, menghasilkan percikan api sekilas yang merobek kehampaan. Sebuah anggota tubuh raksasa, yang siap menyerang, terpotong, menghantam keras di hadapannya. Benturan itu mengancam posisinya, tetapi ia dengan sigap pulih, berputar menghadap sumber suara.
Dari kegelapan yang menyelimuti, muncul siluet seorang pria jangkung dan ramping, wajahnya hanya samar-samar terlihat dalam bayangan. Dengan keanggunan yang meresahkan, ia mengulurkan tangannya ke arah Agatha.
Dengan ketenangan yang mencekam, sosok itu berkata, “Kemarilah, persembahan. Keberadaanmu sangat penting bagi teka-teki kosmik yang agung ini. Sudah waktunya untuk membentangkan kehampaan.”
Sambil bernapas berat dan mengandalkan tongkatnya untuk menopang tubuhnya, Agatha, meskipun kelelahan dan disorientasi yang mendalam, berhasil mengangkat matanya untuk bertemu dengan tatapannya, “Kau melangkah di jalur yang berbahaya, yang akan membawamu pada kehancuranmu sendiri…”
Dia menyeringai, “Mungkin kita semua ditakdirkan untuk merana di tempat terkutuk ini, tapi kemungkinan-kemungkinan seperti itu tak berarti apa-apa sekarang. Dengan kehadiranmu di alam ini, ritual kita hampir berakhir. Harus kuakui, ini tipu muslihat yang rumit.”
…
Suara tembakan yang keras tiba-tiba memecah keheningan koridor yang mencekam. Cahaya singkat dari moncong senjata dan ledakan berikutnya seketika menerangi kegelapan yang menyesakkan. Peluru itu melesat, menembus tengkorak mengerikan makhluk berhiaskan tiga mata yang meresahkan. Tubuhnya yang cacat itu remuk tak bernyawa, dengan cepat membusuk menjadi lumpur keji dan gelap.
Namun, pemandangan mengerikan itu tidak berakhir di sana. Dari setiap sudut, lolongan yang merindingkan tulang belulang bergema, menandakan mendekatnya entitas-entitas jahat lainnya. Mereka muncul dari dinding, muncul dari saluran pembuangan, merayap turun dari celah-celah langit-langit, dan masih banyak lagi.
Cairan kental seperti agar-agar merembes tanpa henti dari setiap celah, secara bertahap menyatu menjadi monster yang tak terhitung jumlahnya yang memiliki kemiripan mengerikan dengan sosok manusia.
Teriakan putus asa bergema di tengah hiruk-pikuk, “Kita kehabisan peluru di sini!” Seorang pelaut, dengan wajah kotor dan keringat, segera mengisi ulang senjatanya, mengambil posisi bertahan, dan melepaskan tembakan lagi. Udara seketika dipenuhi desisan khas api dari dunia lain.
Indra perasa Lawrence sangat waspada, dan saat angin dingin bahaya yang mengancam menerpanya, ia bertindak berdasarkan insting semata, nyaris menghindari serangan mematikan. Saat menggenggam penyerang, ia menyadari sosok humanoid itu, mengenakan seragam militer yang mengingatkan pada masa lampau, mengacungkan sebilah pedang kuno. Dengan dorongan kuat, Lawrence memaksanya jatuh ke tanah.
Tanpa membuang waktu, ia menginjak tubuh makhluk itu, menjepitnya. Api hantu yang menyelimuti Lawrence berkobar dengan kekuatan baru, melahap habis makhluk di bawah sepatunya.
Muncul dari pertempuran kecil ini, Lawrence, yang kini diselimuti aura api halus, mengamati koridor berliku-liku yang terbentang di depan.
Setiap sudut yang dilihatnya menyingkapkan gerombolan kekejian yang menghujat.